Share

Menengok Gua Hira di Jabal Nur, Tempat Nabi Muhammad SAW Terima Wahyu Pertama

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Sabtu 06 Agustus 2022 19:51 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 599 2643225 menengok-gua-hira-di-jabal-nur-tempat-nabi-muhammad-saw-terima-wahyu-pertama-epPKwXf36H.jfif Gua Hira (Foto Okezone/Dani)

MAKKAH - Menengok Gua Hira di Jabal Nur, Makkah, Arab Saudi. Gua Hira merupakan tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5.

Gua Hira berada di atas puncak Jabal Nur atau biasa disebut sebagai Gunung Bercahaya. Jabal Nur memiliki tinggi 642 meter menjadi salah satu tempat yang paling istimewa dan sering dikunjungi oleh jamaah haji maupun jamaah umrah di kota Makkah.

Gua Hira terletak sekira 6 kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Gua Hira sebagai tempat Nabi Muhammad SAW menyendiri dari masyarakat yang pada saat itu masih belum menyembah kepada Allah SWT.

Gua Hira berukuran 1,75 hasta. Letaknya pada tebing menanjak yang agak curam walau tidak terlalu tinggi, oleh karena itu untuk mencapai Gua Hira setiap orang harus memiliki fisik yang kuat dan stamina yang prima.

Untuk mendaki Jabal Nur yang terdiri atas susunan batu-batu tajam dan licin itu diperlukan waktu sekira 1 hingga 2 jam tergantung pada kepadatan jamaah yang ikut mendaki bukit dengan sudut kemiringan antara 60-70 derajat.

Di sisi kanan menuju jalan setapak Gua Hira banyak toko kelontong yang menjual tongkat untuk membantu pendakian ke Jabal Nur. Harganya 10 riyal atau setara Rp40.000 (kurs Rp4.000 per riyal). Toko ini juga menjual berbagai macam souvenir seperti tas, cincin, kalung serta aneka minuman.

Awal pendakian ke Jabal Nur diawali dengan membaca doa agar dilancarkan dan dimudahkan menuju puncak dan menengok Gua Hira.

Langkah demi langkah dengan medan yang cukup berat harus ditempuh untuk mendaki ke atas puncak Jabal Nur hingga sampai ke Gua Hira. Kita harus melewati 1.420 anak tangga. Namun tidak perlu khawatir, karena ada beberapa pembatas dari besi sebagai pegangan.

Gua Hira

Bagi jamaah yang mendaki Jabal Nur disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dan diimbau tidak membuang sampah sembarangan karena lokasi sudah banyak sampah berserakan seperti bungkus makanan hingga botol plastik.

Sementara, agar tidak terlalu capek saat menuju Gua Hira, jamaah bisa mengatur ritme perjalanan. Tidak perlu memaksakan untuk cepat sampai ke Gua Hira. Ada juga beberapa check point untuk beristirahat bisa sambil meneduh jika cuaca panas. Untuk mendaki Jabal Nur disarankan pada pagi hari agar cuaca tidak terlalu panas.

Jamaah bisa sambil menikmati pemandangan kota Makkah saat menuju puncak Jabal Nur. Saat mata memandang sangat terlihat jelas kota Makkah dari ketinggian. Tentu saja Zamzam Tower menjadi pembeda ketika sudah sampai di puncak Jabal Nur. Menjadi landmark kota Makkah, Zamzam Tower bangunan yang tinggi sendiri dibandingkan yang lainnya.

Akhirnya perjalanan sampai ke puncak Jabal Nur setelah menempuh waktu sekira 2 jam.

Bagian puncak Jabal Nur cukup luas. Di beberapa sisi di pagar dari batu atau besi sebagai pengaman. Terdapat ruang yang cukup luas untuk lesehan bagi 10-15 orang. Untuk mencapai Gua Hira harus turun tidak jauh dari puncak Jabal Nur dan cukup terjal jalannya.

Untuk memudahkan jamaah, ada tulisan 'Gua Hira' sebagai penanda tempat tersebut adalah Gua Hira.

Namun, lokasi untuk menuju Gua Hira cukup curam sehingga harus hati-hati sekalipun sudah ada pembatas dari besi yang bisa digunakan sebagai pegangan.

Area masuk Gua Hira melalui lorong sempit, bahkan di satu sisi harus memiringkan badan supaya bisa lewat karena diapit batu yang besar.

Usai melewati lorong sempit barulah terlihat Gua Hira. Tidak seperti gua yang ada di Indonesia. Hanya ada lubang yang tertutup batuan.

Jika digunakan untuk merenung atau berkontemplasi sendirian, tempat dengan panjang 4 meter dan lebar 1,5 meter tersebut nyaman. Ada beberapa jamaah yang memanfaatkan untuk shalat maupun berdoa di Gua Hira.

Kisah Nabi Muhammad SAW Terima Wahyu Pertama

Kejadian itu bermula ketika Nabi Muhammad SAW sangat prihatin akan keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Kota Makkah.

Dalam riwayat disebutkan, tatkala Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun, semakin mendalam-lah hasrat Nabi Muhammad untuk menyendiri guna menjernihkan hati dan pikiran mengingat kondisi kehidupan sosial masyarakatnya yang sarat dengan kejahiliyahan. Nabi Muhammad pergi, mencari tempat yang dianggap tepat untuk ber-tahannuts.

Di dalam gua itulah Nabi Muhammad SAW mengasingkan diri. Beliau melakukan ini semata-mata demi memenuhi kebutuhan rohaninya; kebersihan hati, kelembutan perasaan, kejernihan pikiran dan pandangan.

Hingga suatu malam yang gelap, di malam 17 Ramadan atau sekitar 6 Agustus 610 M, Sang Rasul terbangun dari tidurnya.

Nabi Muhammad terbangun karena mendengar kedatangan sesuatu yang mengejutkan sekaligus membuat dirinya sangat ketakutan. Dialah Malaikat Jibril yang tiba-tiba sudah berada di hadapan beliau lalu berkata dengan lantangnya.

"Gembiralah wahai Muhammad! Saya Jibril dan engkau adalah rasul Allah SWT untuk umat ini.”

Setelah menunjukkan suatu tulisan – demikian suatu sumber menyebutkan- Jibril memerintahkan Muhammad untuk membacanya.

Diceritakan, kala Jibril menuntun beliau membaca. Ada yang berpendapat bahwa maksud membaca ini merupakan perintah (amr) takwim, bukan perintah taklif; yaitu diperintah supaya beliau menjadi pembaca. Dengan demikian, maksud perintah tersebut adalah, “Jadilah engkau pembaca dengan kodrat dan iradat Tuhan.”

“Bacalah!” Kata Jibril. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian Jibril memeluk dan mendekap beliau erat-erat sehingga Nabi merasa kepayahan. Jibril lalu melepaskan dekapannya dan kembali berkata, “Bacalah!”

Nabi tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Untuk kedua kalinya Jibril memeluk dan mendekap Nabi dan beliau pun kembali kepayahan. Setelah melepaskan lagi dekapannya terhadap Nabi, Jibril berkata, “Bacalah!”

Nabi masih menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril memeluk dan mendekap Nabi dan beliau pun kembali kepayahan.

Setelah melepaskannya, Jibril menuntun Nabi dengan kalimat tertulis dalam Al-Qur’an, yang artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq [96]: 1-5).

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini