Share

Pengertian, Hukum, Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Badal Haji

Cita Zenitha, Jurnalis · Sabtu 02 Juli 2022 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 02 398 2622294 pengertian-hukum-syarat-dan-tata-cara-pelaksanaan-badal-haji-PJ0dBJLEmN.jpeg Pengertian, Hukum, Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Badal Haji/Okezone

JAKARTA - Pengertian, hukum, syarat dan tata cara pelaksanaan badal haji menjadi perhatian khusus. Terutama bagi seseorang yang hendak menggantikan seseorang untuk berangkat haji.

Haji merupakan rukun islam yang terakhir dari syahadat, salat, zakat, puasa dan terakhir naik haji.

Orang islam yang diwajibkan berhaji adalah umat islam yang mampu secara fisik dan materi. Dalam menjalankan serangkaian ibadah haji seseorang harus paham tatacara, syarat dan rukun haji.

Umat islam harus memahami salah satu istilah tentang haji salah satunya badal haji. Untuk lebih jelas mengenai pengertian, hukum, syarat dan tata cara pelaksanaan badal haji simak artikel berikut.

Pengertian, Hukum, Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Badal Haji

Pengertian badal Haji

Mungkin ada beberapa umat islam yang belum mengetahui atau asing dengan kata badal haji. Secara bahasa badal artinya mengganti atau mewakili.

Sedangkan secara istilah badal haji artinya menggantikan atau mewakili seseorang dalam melaksanakan ibadah haji.

Badal haji juga bisa diartikan sebagai melakukan ibadah haji tetapi ibadah tersebut digantikan oleh seseorang dengan mengatasnamakan orang lain.

Dengan syarat orang yang digantikan memang memiliki kendala dan berhalangan hadir sehingga tidak bisa menjalankan ibadah hajinya sendiri.

Hukum dan Syarat Badal Haji

Bagaimana hukum badal haji? Terdapat banyak perbedaan bagi para ulama mengenai hukum badal haji.

Bagi madzhab syafi’i orang yang hendak menggantikan seseorang berhaji maka sudah harus berhaji terlebih dahulu.

Begitu juga ketika orang tersebut ingin menggantikan orang tua yang telah wafat untuk berhaji.

Jika orang tersebut belum berhaji maka hukumnya tidak diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadits:

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, sungguh Nabi saw mendengar seorang lelaki membaca talbiyah: ‘Labbaika dari Syubrumah.’ Beliau pun meresponsnya dengan bertanya: ‘Siapa Syubrumah?’

Laki-laki itu menjawab: ‘Saudara atau kerabat.’ Nabi tanya lagi: ‘Apakah kamu sudah haji untuk dirimu sendiri?’ Orang itu menjawab: ‘Belum.’ Nabi pun bersabda: ‘Hajilah untuk dirimu sendiri, kemudian baru haji untuk Syubrumah.”

(HR Abu Dawud, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lainnya dengan sanad shahih).

Berbeda dari madzhab syafi’i, madzhab hanafi memperbolehkan orang yang belum berhaji untuk menggantikan seseorang melaksanakan ibadah haji.

Dari dua perbedaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa lebih baik tidak melakukannya.

Namun, jika ingin melakukannya orang tersebut sebaiknya sudah melaksanakan haji terlebih dahulu.

Sesuai kaidah fiqih jika terdapat perbedaan maka hukumnya mengikuti hukum yang melarang. Maka hukum badal haji menjadi sunnah.

Berdasarkan hukum badal haji maka syarat badal haji adalah harus orang muslim, berakal dan sudah berhaji untuk dirinya sendiri.

Tata Cara Pelaksanaan Badal Haji

Tata cara pelaksanaan badal haji sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketentuan haji pada umumnya.

Perbedaannya terletak pada niatnya, orang yang melakukan badal haji harus berniat haji dan ihram untuk orang yang dibadalkan.

Niat badal haji adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ الحَجَّ عَنْ فُلَانٍ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى

Nawaytul hajja ‘an fulān (sebut nama jamaah haji yang dibadalkan) wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja ibadah haji untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan) dan aku ihram haji karena Allah ta‘ala.”

Demikian pengertian, hukum, syarat dan tata cara pelaksanaan badal haji. Semoga bisa membantu Okezoners dalam melaksanakan badal haji.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini