Share

7 Tahun Vakum, KKHI Makkah Kembali Operasi Jamaah Haji Indonesia

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Sabtu 02 Juli 2022 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 02 398 2622170 7-tahun-vakum-kkhi-makkah-kembali-operasi-jamaah-haji-indonesia-nyUK3ZLRs6.jpg Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Budi Sylvana (kiri) (Foto: KKHI Makkah/Dani Jumadil Akhir)

MAKKAH - Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Budi Sylvana mengatakan, Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) kembali melakukan operasi jamaah haji Indonesia sejak 7 tahun terakhir.

"Setelah tujuh tahun, mulai tahun ini kita mulai lagi lakukan operasi dengan segala keterbatasan tentunya tapi kita sudah mulai coba lagi agar semua jamaah kita sedapat mungkin ditangani di KKHI tidak perlu ke RSAS," kata Budi di KKHI Makkah, Jumat (1/7/2022).

Budi menambahkan, saat ini banyak jamaah haji yang membutuhkan perawatan ekstra seperti pasien penyakit jantung yang mendominasi, sehingga otomatis kebutuhan obat dan peralatan juga semakin meningkat.

Prosedur tetap KKHI tahun ini bahwa seluruh kasus yang sifatnya life saving dilakukan di KKHI kecuali yang membutuhkan terapi lanjutan baru mungkin dikirim ke RS Arab Saudi.

"Karena tenaga dokter ahlinya cukup lengkap, spesialis jantung, ortopedi, bedah, syaraf, anastesi, jiwa, spesialis emergency hampir seluruhnya kita datangkan dari Jakarta," katanya.

Hal ini kata Budi, ssuai dengan harapan pihak DPR dan Kemenag agar seluruh jamaah haji dirawat dokter maupun tenaga kesehatan asal Indonesia. "Mengharapkan agar jamaah ditangani orang Indonesia," ujar Budi.

Tindakan operasi dilakukan kembali di ruang tindakan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah pada kamis (30/6) pukul 19.20 Waktu Arab Saudi (WAS). 

“Ini adalah operasi pertama kami, setelah terakhir dilakukan di tahun 2015,” ungkap Kepala KKHI Makkah Andi Ardjuna Sakti.

Tim medis KKHI Makkah lakukan tiga operasi secara berurutan. Operasi dilakukan segera setelah persiapan ruang tindakan selesai dilakukan oleh tim KKHI.

Tim Dokter KKHI Makkah Caesa Rizkha Febryane, Spesialis Bedah Umum mengatakan bahwa jenis operasi yang dilakukan masuk sampai kategori sedang. Mulai dari Herniotomi, Apendiktomi, dan Insisi Drainase Abses.

“Kita melakukan operasi maksimal sepakat yang sifatnya masuk ke kategori operasi sedang, dilakukan terkait kondisi emergency memang harus kita lakukan” katanya.

Operasi dilakukan secara berurutan, dibuka dengan operasi hernia. Kemudian dilanjutkan dengan operasi usus buntu atau apendiktomi, dan yang terakhir kita lakukan tindakan insisi drainase abses untuk pasien dengan infeksi pada fungsi alat geraknya.

Bukan tanpa alasan, jadwal operasi ditentukan sedemikian rupa berurutan mulai dari jenis operasi yang bersih sampai bersih tercemar dengan tujuan efisiensi dan efektivitas waktu. “Kami pilah pilah operasi dengan menentukan jadwal operasi mulai dari operasi yang memang operasi bersih sampai ke operasi kotor itu kita lakukan di belakang," kata Caesa.

Setelah tiga operasi selesai dilakukan, akan dilakukan sterilisasi ruangan, untuk kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan operasi lainnya.

Tindakan pertama yaitu Herniotomi atau operasi hernia pada Kamis (30/6) pukul 19.20 WAS. Selama 25 menit operasi berlangsung, pukul 19.45 WAS operasi selesai. Segera setelah selesai operasi, pasien dimasukkan ke ruang ICU untuk dilakukan observasi.

“Hari ini (Jumat) kondisi pasien sudah stabil dan sudah pindah ke ruangan rawat," jelas Hendra Syamsidi Zahani, Spesialis Anestesi yang tergabung dalam tim operasi.

Tindakan kedua yaitu Apendiktomi atau operasi usus buntu yang dilakukan dengan durasi kurang lebih 50 menit, lanjut dr. Hendra. Selain pembiusan spinal abses, pasien juga dikombinasi dengan bius umum.

“Kalau terlambat penanganan bisa operasi besar. Tepat keputusan dilakukan operasi,” ujar dHendra.

Setelah dilakukan operasi, pasien juga dilakukan observasi di ruang ICU. Menurut dr. Hendra kondisi pasien sudah stabil pagi ini (jumat), dan sudah bisa berkomunikasi dengan baik

“Kita akan dipindahkan ke ruang rawat biasa” tambahnya.

Sementara tindakan ketiga, yaitu operasi inisis drainase abses pada pasien dengan luka infeksi di tungkai kaki. "Setelah selesai tindakan debridemen, pasien langsung dikembalikan ke bangsal” ujar Hendra.

Sampai berita ini diturunkan, per Jumat 1 Juli 2022 sedang berlangsung tiga operasi debridement pembersihan luka infeksi.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini