Share

Tukang Becak dan Istri Naik Haji, Buah Manis Menabung Selama 30 Tahun

Inin Nastain, Jurnalis · Selasa 07 Juni 2022 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 07 393 2607240 tukang-becak-dan-istri-naik-haji-buah-manis-menabung-selama-30-tahun-beAmjd1Pkx.jpg Kisah tukang becak dan istrinya bisa naik haji setelah menabung 30 tahun/Inin Nastain

MAJALENGKA - Haji adalah ibadah yang diidam-idamkan oleh seluruh umat Islam di dunia.

Namun, memang tidak semua kaum muslim bisa mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam ke-lima itu.

Kendala biaya kerap menjadi penghambat kaum muslim untuk bisa pergi ke Mekkah, terlebih besaran biaya haji tahun ini sekitar Rp39 juta.

Meski begitu, hasrat untuk menjalankan ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrohim AS itu kadang menjadi kekuatan tersendiri bagi para umat Islam.

Berbagai cara bisa dilakukan agar bisa beribadah haji seperti mencicilnya dengan kurun waktu yang tidak sebentar.

Eme Karna Ardali, warga Blok Jatiraga, Desa/Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat adalah contoh betapa keinginannya untuk berhaji, tidak bisa dihentikan oleh kondisi ekonomi dan usia. Dengan mengandalkan mengayuh becak dan buruh tani, Eme yang berusia 65 tahun itu, tahun ini berkesempatan menjalankan ibadah di Tanah suci, memenuhi panggilan Tuhan.

Tidak tanggung-tanggung. Eme, akan melapalkan 'Labbaik Allahumma Labbaik' bersama sang istri tercinta, Icih Salsih Surya. Pasutri pekerja serabutan itu, akan berangkat ke Tanah Suci pada 11 Juni, bersama rekan-rekannya di kloter 11.

Sebagai pasangan yang tidak memiliki penghasilan tetap, Eme harus menjalani proses sekitar 10 tahun. Pendapatan hasil mengayuh becak, ditambah dengan penghasilan istrinya sebagai buruh serabutan, nama Eme dan Icih mulai tercatat sebagai calon jamaah ibadah haji sejak 2012 lalu.

Mereka berani mendaftarkan diri, setelah uang tabungan yang dikumpulkan sejak 30 tahun lalu, dianggap telah cukup untuk 'uang muka.' Dalam kurun waktu 30 tahun itu, dia Istiqomah menyimpan uang penghasilannya dengan angka yang berbeda.

"Mun hasil ngabecak meunang Rp60 ribu, nya kanggo resiko Rp20 ribu, nu Rp40 ribuan disimpen. (Kalau hasil ngebecak dapat Rp60 ribu, ya untuk kebutuhan sehari-hari Rp20 ribu, yang Rp40 ribu disimpan)," kata Eme.

"Kalau habis panen, hasil buburuh ( jadi buruh), gabahnya dijual, buat nambah-nambah simpenan," lanjut dia.

Proses daftar haji Eme sendiri mulai dilakukan pada 2012 lalu. Sama seperti sebelum-sebelumnya, dia juga selalu rutin menyetorkan uang cicilan biaya haji ke Bank, hasil dari usaha tak tetapnya itu.

"Kurang lebih 10 tahun, saya terus menabung ke Bank setiap hari. Tahun ini, alhamdulillah bisa berangkat berdua sama istri," kata Eme, Selasa (7/6/2022).

Eme sendiri sejatinya sudah bisa berangkat pada 2020 lalu. Namun sayang, harapannya untuk segera memenuhi rukun Islam itu tertunda.

Pandemi Covid 19, membuat Eme harus bersabar untuk segera berziarah ke Makkah. "Alhamdulillah atas izin Allah bisa berangkat tahun ini. Sekarang saya sama istri berangkat keloter 11 (pemberangkatan pertama dari Kabupaten Majalengka)," jelas dia.

Kebahagiaan Em begitu jelas terpancar dari rona mukanya. Di usianya yang sudah tidak muda, serta perjuangan yang tidak mudah, akhirnya Eme bisa berangkat haji bersama istri tercintanya.

"Alhamdulillah senang, asa lega hate (merasa lega hati). Dari dulu, sekarang bis berangkat," jelas dia dengan sorot mata berbinar.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini