nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Khutbah Wukuf 2019: Tiga Cara Menjadi Haji Mabrur

Widi Agustian, Jurnalis · Sabtu 10 Agustus 2019 17:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 10 394 2090247 khutbah-wukuf-2019-tiga-cara-menjadi-haji-mabrur-K6LvaEejh1.jpg Jamaah haji Indonesia menyimak khutbah wukuf di Arafah. (Foto: Darmawan/MCH 2019)

ARAFAH – Setiap jamaah di Tanah Suci pasti menginginkan menjadi haji mabrur. Sebab, balasan bagi haji mabrur adalah tempat di surga.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih:

"Haji yang mabrur tidak balasan baginya kecuali surga," (HR Ahmad)

"Bagaimana cara mendapatkan haji yang mabrur? Para ulama menjelaskan berbagai cara," ungkap Naib Amirul Hajj KH A Bunyamin Ruhiyat ketika memberi khutbah wukuf haji, di Arafah, Sabtu (10/8/2019).

Baca juga: Khutbah Wukuf 2019 Mengusung Tema 'Menggapai Haji Mabrur di Arafah' 

Pertama, lanjut dia, niat melaksanakannya karena Allah Subhanahu wa ta'ala. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran Ayat 97 dan Al Baqarah Ayat 196.

Kedua, papar KH Bunyamin, biaya haji harus bersumber dari yang halal. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam hadis HR Al Tabrani dan Abu Hurairah:

"Apabila seorang pergi haji dengan biaya yang baik, meletakkan kakinya dalam kendaraan, lalu membaca talbiah, seseorang akan memanggilnya dari arah langit: 'Aku terima panggilanmu dan berbahagialah, bekalmu halal, pekerjaanmu halal, dan hajimu mabrur. Serta tidak berdosa."

"Bila ia melakukannya dengan biaya yang bersumber dari hal-hal tidak baik, meletakkan kakinya di kendaraan, lalu berkata 'labaykka', ada suara panggilan dari arah pangit 'la labbayka wala sa dayka (Anda tertolak), bekalmu haram, biaya yang kamu gunakan haram, dan hajimu tidak mabrur."

Baca juga: Khutbah Wukuf Haji 2019: Banyak Berdoa untuk Kebaikan Diri hingga Bangsa 

Ketiga, tambah KH Bunyamin, melaksanakannya sesuai syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Ia mengatakan, melaksanakan ibadah haji adalah napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim Alaihisalam.

"Beliaulah yang pertama kali diperintahkan berhaji dengan tata cara (manasik) yang ditetapkan-Nya. Dalam perjalanannya, ibadah haji mengalami banyak penyimpangan. Sampai pada akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam," tutur KH Bunyamin.

"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah," (QS Al Baqarah: 196).

Ia melanjutkan, guna meluruskan dan menyempurnakan kembali ibadah haji, jamaah harus mencontoh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat serta amalan Al Salaf al Shalih yang mengikuti ajarannya.

Rasulullah berpesan:

"Ambillah tata cara pelaksanaan ibadah haji (manasik) dariku."

Baca juga: Menag Ucapkan Selamat Idul Adha 1440H kepada Seluruh Umat Islam 

Jamaah haji Indonesia menyimak khutbah wukuf di Arafah. (Foto: Darmawan/MCH 2019)

KH Bunyamin menerangkan, demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibadah haji yang dilaksanakan menjadi mabrur.

Ia menegaskan, tidak seorang pun tahu secara pasti, apakah mabrur atau tidak hajinya. Itu hak prerogatif Allah Subhanahu wa ta'ala. Manusia hanya bisa mengenali kemabruran haji melalui tanda-tandanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini