Share

Duka di Jabal Rahmah

Widi Agustian, Jurnalis · Rabu 31 Juli 2019 21:18 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 31 393 2086107 duka-di-jabal-rahmah-mcz8sqGv7D.jpg Jabal Rahmah (Foto: Reuters)

Ketika sudah dekati, saya langsung tanya di mana jamaah yang tidak sadarkan diri tersebut. "Di atas, Rahman juga di atas," kata dia.

Saya bergegas menanjak bukit itu. Batu demi batu saya pegang dan injak hingga akhirnya saya berpapasan dengan rombongan yang tengah mengevakuasi jamaah yang baru saya ketahui merupakan perempuan lansia tersebut.

Rahman dengan sorban cokelatnya tengah menggendong turun jamaah tersebut. Perlahan dia menuruni batu demi batu dengan jamaah di lengannya tersebut.

Ketika saya datang, dia langsung memanggil saya. "Wid, di bawah," kira-kira begitu kalimat sederhana yang terlontar, agar saya bergantian menggapai jamaah tersebut, karena dia terbentur batu yang tinggi dan tidak mungkin dia lewati.

Saya ambil dan bopong badan sang ibu. Tapi saya pun tidak bisa turun lagi, karena saya pun terbentur batu yang lumayan tinggi. Saya estafet lagi badan si ibu ke seorang bapak yang menggunakan batik khas jamaah Indonesia.

Sepengelihatan saya, Rahman kembali menyambut badan ibu yang tidak sadarkan diri tersebut dari si bapak. Berusaha secepatnya, dia nyaris terpeleset di batu-batu, saya tarik pinggangnya saat itu.

Dia langsung berjalan cepat, kemudian berlari ke arah depan. Kemudian dia kembali bergantian menggotong sang ibu dengan saya.

Dia sempat menolak. "Masih kuat," kata dia.

"Udah cape, saya aja yang bawa," saya langsung ambil sang ibu dari tangan Rahman. Muka Rahman sudah sangat memerah saat itu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini