Share

Kisah Jamaah Haji Tuna Netra Bisa Memeluk Kakbah

Widi Agustian, Jurnalis · Minggu 28 Juli 2019 22:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 28 393 2084722 kisah-jamaah-haji-tuna-netra-bisa-memeluk-kakbah-RDSldazjha.jpg Bangunan Kakbah di Makkah Al-Mukarromah (Foto: Ist)

MAKKAH - Meski tidak bisa melihat, Subro sangat antusias dalam menjalankan ibadah haji. Dia merupakan jemaah haji dari kloter 25 embarkasi Jakarta (JKG) asal Serang, Banten yang tahun ini berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima.

Sebagai seorang tuna netra, Subro mengaku butuh perjuangan baginya untuk melakukan ritual haji ini. Walau begitu, keajaiban-keajaiban seperti tak pernah berhenti menghampirinya. Bahkan hingga menginjakkan kakinya di Kota Makkah.

Misalnya sesaat setelah malam tiba di Makkah, Subro bersama rombongan mengikuti umrah wajib pada pagi hari. Dia bisa merasakan betapa padatnya Masjidil Haram ketika itu. Oleh rekannya dia dibimbing saat masuk ke dalam Masjidil Haram.

Saat itu, dia mencium bau wangi yang amat asing. Wangi itu membuat tubuhnya merasa ringan dan nyaman. Dia menyadari bahwa ini adalah aroma surga yang dipancarkan oleh Kakbah. Lalu dirinya mengikuti tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dalam lautan manusia yang semakin lama semakin padat.

Namun, ada hal yang membuatnya merasa takjub ketika tubuhnya seperti ditarik perlahan mendekat menuju pusat pusaran. Seperti magnet, Kakbah menarik tubuh Subro untuk mendekat. Subro merasa takjub ketika tubuhnya bisa memeluk Kakbah.

Padahal, ini musim haji di mana umat dari berbagai penjuru bumi berkumpul di Masjidil Haram. Area tawaf sesak dengan manusia. Mereka bertasbih, berzikir, dan berdoa sepanjang 7 kali putaran tawaf.

Entah tangan siapa yang menarik Subro dalam pusaran manusia bertawaf di Baitullah. Semakin dekat, semakin dekat, sampai tangannya bisa menyentuh dinding Ka’bah. Subro mengaku ada yang memberinya jalan. Tangan itu terus menarik, seolah mengarahkan tangannya menyentuh dinding Kakbah.

"Ini Kakbah cepat pegang'. Saya pegang, saya peluk Kakbah. Jadi Alhamdulillah saya dipermudah untuk ibadah apalagi untuk menyentuh Kakbah," kata Subro.

Meski kebesaran Allah itu tak bisa dia saksikan langsung dengan indra penglihatan, namun begitu terasa dalam batin dan lubuk sanubarinya. Dia pun merasa sangat bersyukur dengan hal tersebut.

"Jika dulu Kakbah, katanya dilihat orang-orang di gambar sajadah, sekarang bisa dirasakan keagungannya. Itu yang buat saya bangga," ucapnya.

Sebagai jamaah haji tunanetra, Subro tidak merasa keterbatasan fisiknya sebagai penghalang untuk beribadah.

Justru, kata dia, dirinya sangat yakin dan berserah diri kepada Allah, agar dipermudah dalam menjalankan semua prosesi ibadah haji, mulai dari wukuf hingga melempar jumrah.

"Saya tetap yakin walaupun Engkau berikan saya keterbatasan, tapi kalau menurut saya, sama dengan yang lain, sama dengan orang lain. Insyaallah saya tidak merasa khawatir. Bahkan sangat yakin, Insyaallah, Allah mempermudah memperlancar ibadah kita nanti," ujar dia.

Keyakinan yang tulus bahwa setiap niat baik dan usaha pasti akan diijabah Allah, selalu dipegang teguh pria 31 tahun ini. Dia tak punya cara yang muluk untuk bisa sampai ke titik ini, hanya berusaha dan memasrahkan segalanya pada Allah.

"Pokoknya hidup kita Allah yang mengatur, jadi kalau semuanya ditegakkan, tetap memegang tauhid, Allah bersama kita, Insya Allah perjalanan kita semuanya, baik haji atau yang lainnya pasti diluluskan, pasti dipermudah," kata Subro.

Sebagai jamaah haji tunanetra, Subro tidak merasa keterbatasan fisiknya sebagai penghalang untuk beribadah.

Justru, kata dia, dirinya sangat yakin dan berserah diri kepada Allah, agar dipermudah dalam menjalankan semua prosesi ibadah haji, mulai dari wukuf hingga melempar jumrah.

"Saya tetap yakin walaupun Engkau berikan saya keterbatasan, tapi kalau menurut saya, sama dengan yang lain, sama dengan orang lain. Insyaallah saya tidak merasa khawatir. Bahkan sangat yakin, Insyaallah, Allah mempermudah memperlancar ibadah kita nanti," ujar dia.

Keyakinan yang tulus bahwa setiap niat baik dan usaha pasti akan diijabah Allah, selalu dipegang teguh pria 31 tahun ini. Dia tak punya cara yang muluk untuk bisa sampai ke titik ini, hanya berusaha dan memasrahkan segalanya pada Allah.

"Pokoknya hidup kita Allah yang mengatur, jadi kalau semuanya ditegakkan, tetap memegang tauhid, Allah bersama kita, Insya Allah perjalanan kita semuanya, baik haji atau yang lainnya pasti diluluskan, pasti dipermudah," kata Subro.

Pergi haji tahun ini, bagi Subro, merupakah perjalanan keduanya ke Tanah Suci. Sebelum ini, pada 2016, Subro bersama istri pernah berangkat umrah.

Salah satu doa yang dia panjatkan saat itu adalah berharap diizinkan kembali ke Tanah Suci untuk berhaji.

"Jujur tahun 2012 saat mendaftar itu saya lupa, apakah sudah daftar apa belum. Karena mungkin banyak aktivitas. Paling saya doanya, berikan izin, ya, Allah saya kembali lagi ke Tanah Suci. Pas pulang ke Indonesia setelah umrah lalu mendadak dapat surat, bahwa saya berangkat 2019," ungkapnya.

Kendati pernah umrah, Subro mengakui ibadah haji memang jauh berbeda. Tak hanya waktu dan prosesi ibadahnya yang panjang, ibadah haji juga menuntut kesabaran. Apalagi karena banyak pengalaman spiritual yang bisa dialami orang-orang yang pergi haji.

Dalam setiap doanya di Tanah Suci, Subro berhajat agar keluarga dan anak-anaknya bisa melaksanakan ibadah haji, diberikan kesehatan, kekuatan dalam menjalani hidup, dan diberikan ketabahan dan kesabaran jiwa. Dan, Ia selalu merindukan untuk kembali lagi ke Tanah Suci.

"Saya ingin sekali kembali ke sini lagi, haji kedua kali, haji ketiga kali, terutama panjang umur. Hanya itu saja," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini