Share

Perjuangan Kadariah Bisa Naik Haji Berkat Jualan Air Galon Rebus

Antara, Jurnalis · Selasa 23 Juli 2019 13:28 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 23 393 2082485 perjuangan-kadariah-bisa-naik-haji-berkat-jualan-air-galon-rebus-PGgQQMqTbn.jpg Jamaah haji menunggu pemberangkatan di Bandara Hang Nadim Batam. (Foto: Humas PPIH Hang Nadim Batam/Antaranews)

PEKANBARU – Kadariah binti Kanta Daud (58) bisa menunaikan ibadah haji berkat kerja keras menjual air galon yang sudah dimasak. Penghasilan dari pekerjaan itu selalu ia sisihkan untuk ditabung.

"Saya betul-betul ingin dan yakin bisa berangkat haji," kata Kadariah ketika dijumpai saat istriharat di Asrama Embarkasi Haji Riau, sebagaimana dikutip dari Antaranews, Selasa (23/7/2019).

Baca juga: Kisah Penjaga Toilet 20 Tahun Menabung hingga Akhirnya Berangkat Haji 

Kadariah yang sudah ditinggal suaminya delapan tahun lalu itu kehidupannya sangat sederhana, termasuk rumahnya yang tidak begitu besar di Jalan Lubuk Bandung Hilir, RT 01 RW 01, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Kadariah, janda dua anak, mengaku sadar bahwa keinginannya tidak akan mungkin terwujud tanpa tekad kuat serta usaha keras. Sejak saat itu ia mulai gigih menyisihkan sebagian penghasilan dari menjual air galon yang sudah dimasak untuk ditabung.

Kakbah. (Foto: Ist)

Didampingi Pranata Humas Ahli Kanwil Kemenag Riau, Vethria Rahmi, ia menyatakan tekad tersebut akhirnya terwujud saat telah melunasi biaya haji hingga akhirnya masuk rombongan jamaah calon haji 2019 sejak mendaftar pada 2011.

Perjuangan cukup panjang dalam menghidupi diri sendiri dan keluarganya telah dilewati. Kadariah pernah berjualan ikan basah di pasar, kadang juga menjual ikan yang diasap (salai), hingga membuka warung kecil di rumahnya.

Baca juga: Cerita Nenek Tayo, Jamaah Haji Berusia 105 Tahun Asal Lombok 

Dirinya bahkan telah menjual ladang karet yang tidak seberapa luas, dan sudah digunakan untuk membiayai pengobatan suami yang mengidap penyakit tumor.

"Sudah ke mana-mana kami bawa berobat, sampai ke Padang, Rengat, Pekanbaru, tapi tidak sembuh juga. Pada akhirnya takdir Allah datang. Suami saya duluan dijemput Yang Maha Kuasa," katanya lirih.

Bermodal dari sisa biaya pengobatan dan melunasi utang suami, akhirnya Kadariah memberanikan diri mendaftar haji di kantor Kemenag setempat.

Sejak mulai mendaftar, perempuan yang dikaruniai dua anak tersebut mulai menyisihkan sebagian uang jatah belanja ataupun uang lain dari hasil dagangannya. Setiap hari Kadariah menyimpan uangnya di balik tikar kasur kamarnya dengan nominal yang tak pasti.

"Kadang Rp10 ribu, kadang ya ada Rp20 ribu, kadang juga Rp50 ribu. Kan biaya haji itu banyak, bukan cuma mendaftar. Tidak pasti berapa jumlah yang disimpan, tergantung berapa yang bisa disisihkan. Tapi setiap hari harus ada yang disimpan untuk ditabungkan," katanya.

Baca juga: Cerita Penjual Pencok Sisihkan Keuntungan demi Berangkat Haji Bersama Anaknya 

Kadariah menyebutkan, untuk berjualan air yang sudah dimasak, rata-rata habis 12 galon per hari, dan jika lagi banyak pesanan orang bisa dapat Rp100 ribu per hari.

Mengumpulkan dan menyimpan uang di balik tikar, atau di bawah kasur untuk menggenapkan biaya pergi haji, dilakukan Kadariah tanpa sepengetahuan suaminya hingga tiada. Apalagi, upaya menabung tersebut tidak mengurangi biaya pendidikan kedua anaknya. Ternyata semua anaknya bisa sekolah dan tidak terganggu.

Masjid Nabawi di Madinah. (Foto: Okezone)

"Sekarang yang masih kuliah tinggal satu, di UPP Rohul, di belakang Kapolres Rohul. Satu lagi yang besar sudah menikah, itu pun hanya kerja buruh kasar. Ada orang buat batako, ngecat rumah orang, atau membuat jalan setapak dikerjakannya juga," kata Kadariah yang bangga kepada anak-anaknya itu.

Kadariah yang masuk daftar calon haji Kloter 18 BTH dari Kabupaten Rohul mengatakan menghidupi anak bungsunya yang masih kuliah bukan perkara mudah, terutama saat sudah mendaftar haji.

Baca juga: Curhatan Petani Kelapa Tidak Menyangka Bisa Berangkat ke Tanah Suci 

Jauh sebelum berjualan air galon yang sudah dimasak di rumahnya tiga tahun belakangan, ia berjualan ikan basah di desanya. "Kalau dapat untung, Alhamdulillah. Kalau tak terjual ikan itu saya salah," katanya pilu saat mengenangnya.

Ibu dua anak ini pun membawa doa istimewa ke Tanah Suci. "Saya ingin berdoa biar dipermudah rezeki anak-anak saya sampai kehidupan mereka bisa lebih baik."

"Kalau bisa saya hanya ingin ibadah di sisa usia, semoga harapan ini terwujud. Waktu Duha ya Duha, Tahajud juga bisa, tapi kalau kita letih tidak mungkin sanggup beribadah maksimal," katanya.

Menuju Makkah

Sebanyak 448 calon haji tergabung Kloter 8 Embarkasi Batam (BTH) asal Kabupaten Kampar dan Rokan Hilir –termasuk Kadariah– sudah meninggalkan Kota Makkah, Arab Saudi, pada pukul 01.30 waktu Arab Saudi, Minggu 21 Juli 2019.

"Sebelumnya bus jamaah harus dipastikan berhenti di Zulhulaifa atau yang lebih dikenal dengan Bir Ali, untuk miqat makani atau mengambil niat umrah wajib," kata Pranata Humas Ahli Kanwil Kemenag Riau Vethria Rahmi.

Baca juga: Calhaj Asal Padang Lawas Ini Berharap Sembuh dari Lumpuh ketika di Makkah 

Menurut dia, seperti dilaporkan Ketua Kloter 8 BTH Sugeng Syafriadi, di Bir Ali jamaah disarankan berwudu kembali jika sudah batal, Salat Tahiyatul masjid dua rakaat, membaca istigfar.

Selanjutnya, katanya, jamaah menghadiahi ibu/bapak dengan Surah Alfatihah, berdoa dengan khusyuk, dan melaksanakan salat sunah ihram dua rakaat.

Tanah Suci Makkah. (Foto: Ist)

"JCH yang sudah bergeser dari Madinah ke Makkah hari ini berjumlah 443 jamaah dan 5 petugas haji, jadi keseluruhan jumlah JCH Kloter 8 adalah 448 orang," katanya.

Sementara jumlah jamaah haji yang telah tiba di Makkah sudah 6 kloter, dan jamaah tetap diimbau untuk beristirahat terlebih dahulu setiba di Makkah untuk memulihkan stamina, baru kemudian melakukan rangkaian ibadah umrah.

Baca juga: Kisah Cinta di Tanah Suci: Kakek Mahmud Enggan Terpisah dari Istri, walau Sekejap 

Dalam Kloter 8 tercatat 1 jamaah yang masih dirawat di RSAS King Fahd Madinah yakni Sumarto Karyadi Karya asal Kota Bangun Tapung Kampar karena sakit.

Sebagai umat Islam, wajib baginya menunaikan rukun Islam yang lima itu yakni membaca syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Menegakkan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan haji ke Baitullah al Haram.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini