Cerita Penjual Pencok Sisihkan Keuntungan demi Berangkat Haji Bersama Anaknya

Antara, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 09:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 19 393 2080864 cerita-penjual-pencok-sisihkan-keuntungan-demi-berangkat-haji-bersama-anaknya-cyA5hlB1oA.jpg Ibu Rihati Husein rajin menyisihkan keuntungan menjual pencok demi berangkat haji bersama anaknya. (Foto: Norjani/Antaranews)

SAMPIT – Penjual pencok di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rihati Husein (65), dan anaknya Achmad Yadi (31) berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini bisa terjadi berkat usaha Rihati rajin berjualan makanan mirip gado-gado itu.

"Alhamdulillah, senangnya minta ampun. Beberapa malam ini saya sampai tidak bisa tidur karena saking senangnya akan berangkat haji," kata Rihati, warga Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Mentawa Baru, Ketapang Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, di Sampit, Jumat (19/7/2019).

Baca juga: Curhatan Petani Kelapa Tidak Menyangka Bisa Berangkat ke Tanah Suci 

Warga Kompleks Bina Karya Permai Sampit tersebut sudah cukup lama berjualan pencok, tepatnya setelah sang suami meninggal. Usaha berjualan makanan itu menjadi tumpuan pendapatan keluarganya.

Setiap hari, perempuan yang juga akrab disapa Ibu Giram itu dengan tekun berjualan pencok. Dia dibantu Achmad Yadi yang juga berjualan es kelapa di kios yang sama dengan sang ibu.

Kakbah. (Foto: Ist)

Sejak sang anak masih bayi, Rihati mengaku sudah berniat ingin menunaikan ibadah haji. Dia optimistis dengan niatnya meski saat itu belum ada gambaran dari mana mendapatkan uang puluhan juta rupiah untuk biaya berangkat haji.

Dimulai pada 2002 ketika memantapkan hati memulai perjuangan menggapai cita-cita berangkat haji, Rihati mulai menyisihkan sebagian keuntungan berjualan pencok untuk ditabung.

Baca juga: Nostalgia Wakil Menlu saat Jadi Petugas Haji 

Dia rela menahan keinginan membeli perhiasan dan perabot rumah karena tekad serta berkomitmen menunaikan ibadah haji.

Bahkan, Rihati mengaku pernah menunggak membayar tagihan listrik lantaran uang sudah disetorkan untuk tabungan haji.

"Saya ikut arisan. Setiap minggu bayar Rp200 ribu. Kalau dapat, uang arisan itu saya setor ke bank untuk mencicil biaya haji. Begitulah seterusnya," kata Rihati.

Setelah mengumpulkan uang selama sembilan tahun, tepatnya 2012, dia mendaftar berangkat haji di salah satu bank dengan biaya pendaftaran Rp5 juta.

Tidak hanya untuk dirinya, tetapi Rihati juga mendaftarkan berangkat haji untuk sang anak, Achmad Yadi.

Baca juga: Calhaj Asal Padang Lawas Ini Berharap Sembuh dari Lumpuh ketika di Makkah 

Selain berniat memberangkatkan haji sang anak, Rihati juga berharap anaknya itu mendampinginya saat menjalankan ibadah haji.

Sebagai orang yang tidak bisa membaca dan menulis, Rihati menyadari membutuhkan bantuan orang lain dalam banyak hal, terutama untuk berhaji.

Masjid Nabawi di Madinah. (Foto: Okezone)

Achmad Yadi mengaku setiap hari berjualan bersama ibunya. Dia tidak mencari pekerjaan lain karena ingin membantu ibunya sekaligus menjaganya karena dia sadar sang ibu sudah berusia lanjut sehingga tidak boleh terlalu capai.

"Saya khawatir ibu sakit kalau terlalu capai, makanya saya putuskan berjualan membantu ibu. Saya yakin hasilnya akan baik bagi kami semua," ujarnya.

Baca juga: Kisah Cinta di Tanah Suci: Kakek Mahmud Enggan Terpisah dari Istri, walau Sekejap 

Jamaah calon haji asal Kotawaringin Timur akan diberangkatkan ke Tanah Suci pada Jumat 26 Juli 2019 sore. Jamaah diminta menjaga stamina dan kesehatan karena akan menempuh perjalanan darat lebih dari delapan jam menggunakan bus menuju Embarkasi Syamsudin Noor Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini