alexametrics

Menakar Sukses Haji 2018 (1)

Amril Amarullah, Jurnalis · Sabtu, 22 September 2018 - 09:00 wib
(Jamaah haji di Tanah Suci (Amril Amarullah/Okezone))

MASIH kuat dalam ingatan, ketika itu hari pertama tiba di Tanah Haram, tepatnya di Madinah Al Munawarah, sebuah kota mungil yang begitu dicintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Waktu itu kalender jam tangan menunjukkan 17 Juli yang menjadi hari pertama petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melancarkan aksinya di Madinah. Hari tersebut adalah gelombang 1 jamaah tiba di Arab Saudi.

Di hari pertama itu petugas tidak menemukan hal yang berarti, hanya wajah-wajah ceria tampak dari para jamaah ketika mereka menginjakkan kakinya untuk kali pertama di Tanah Haram.

Bagi mereka, ini mungkin sebuah mimpi yang menjadi nyata. Bertahun-tahun masa penantian, menabung sedikit demi sedikit, kini mereka ditemukan pada kenyataan, yakni berhaji di Baitullah.

Ketika tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, ada yang sujud syukur, ada yang mengangkat tangan seraya berdoa, ada juga yang sibuk dengan ponselnya mengabarkan sanak famili di kampung halaman.

Terpancar sebuah kebahagian yang sulit terbayarkan, raya syukur dan salawat nabi tak henti-hentinya mereka panjatkan. Tidak lama menunggu, jamaah pun beranjak menuju bus dan selanjutnya diantar ke tempat penginapan di Madinah.

 

Jamaah haji tiba di Madinah (Amril/Okezone)

Petugas lega di hari pertama semua berjalan lancar, tidak ditemukan jamaah yang mengalami kendala. Hanya ada beberapa orang yang sakit karena jetlag saat turun dari pesawat.

Diludahi hingga Dipukul Jamaah

Baru keesokan harinya, petugas dihadapkan pada satu pemandangan yang menurut sebagian orang katakan bahwa ketika menjadi petugas haji akan banyak menemukan hal unik dan menarik seputar jamaah.

Seperti dialami Dede Rohali, petugas MCH, ketika itu waktu menunjukkan pukul 15.00 WAS, dia berniat salat berjamaah di Masjid Nabawi. Hanya berjarak 100 meter menuju gerbang masjid, Dede dihadapkan pada kenyataan di mana jamaah seperti kebingungan.

Seorang pria yang mengenakan batik khas jamaah haji Indonesia terlihat berjalan sendirian di Jalan King Fahd, Madinah, sesekali dia menggaruk-garuk kepala. Sesekali dia duduk termenung, pandangan matanya selalu mengarah ke Gunung Uhud.

 

Jamaah haji di Jabal Uhud (Amril/Okezone)

Tidak lama berselang, pria itu bangkit dan berjalan ke arah Gunung Uhud sambil tangannya menunjuk-nunjuk gunung tersebut.

Dia lalu melangkahkan kaki ke arah gunung itu. Tapi, hanya tiga langkah. Berhenti, lalu duduk, minum, melangkah lagi, dan berhenti lagi.

Gerak-geriknya yang mirip orang kebingungan diketahui empat petugas haji yang sedang melintas. Dede bersama petugas MCH lainnya yang dibantu satu petugas Linjam, menghampiri jamaah yang rambutnya sudah memutih itu.

Diketahui jamaah tersebut bernama Bapen Kiyam asal Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. "Bapak mau apa disini," tanya petugas.

Bapen pun menjawab dengan kata yang terbata-bata. Ternyata, dia tidak lancar berbahasa Indonesia, bahasa daerahnya pun sulit dipahami.

"Saya mau ketemu teman-teman. Mereka menunggu di gunung itu, mau panen padi," ujar Bapen dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

 

Jamaah haji di Masjid Nabawi (Amril/Okezone)

Mendengar jawaban kakek itu, sontak petugas kaget. Sebab, tidak ada pemondokan haji di Gunung Uhud. Apalagi, jarak gunung itu dengan area pemondokan terdekat dengan Masjid Nabawi sekira 7 kilometer.

(sal)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini