alexametrics

Inilah Perempuan Perkasa di Balik Perlindungan Jamaah di Raudhah

Amril Amarullah, Jurnalis · Rabu, 19 September 2018 - 11:51 wib
(Siti Isnaini, PPIH Arab Saudi yang Bertugas Mengamankan Jamaah Haji Perempuan yang Berziarah ke Raudhah (foto: Amril Amarullah/Okezone))

MADINAH - Petugas haji dirasa sangat perlu kehadirannya di tengah-tengah jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Apalagi bila harus menghadapi jamaah negara lain yang secara fisik jauh melebihi kemampuan jamaah Indonesia.

Kondisi berdesak-desakan dan saling dorong kerap terjadi baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, khususnya di Raudhah. Di situlah peran seorang petugas dibutuhkan, khususnya para pendamping jamaah perempuan.

Suasana Pintu Masuk Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW Suasana Pintu Masuk Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW (foto: Amril Amarullah/Okezone) 

Adalah Siti Isnaini atau biasa dipanggil Iis, PPIH Arab Saudi dari unsur tenaga musiman (temus) yang bertugas mengamankan jamaah haji perempuan yang hendak ziarah ke Raudhah.

Tugasnya tidaklah mudah, tak henti-hentinya ia berteriak-teriak ketika jamaah perempuan mulai memasuki Raudhah, "Ibu harap bersabar, jika Allah izinkan semua dapat salat dan doa di dalam Raudhah. Jangan lari atau saling dorong! Hindari berdesak-desakan! Utamakan keselamatan karena keluarga tercinta menunggu di rumah. Berharap Ibu-ibu pulang dengan sehat dan selamat!”

Kata-kata ini mungkin tidak asing bagi jamaah haji Indonesia, terutama jamaah perempuan, yang pernah datang ke Masjid Nabawi dan berziarah ke Raudhah.

Temus asal Sampang Madura ini, menjadi petugas haji di Madinah sejak 2013. Sejak itu, setiap tahun ia lolos seleksi petugas haji dari Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah.  Tahun 2013 ia bertugas di Bir Ali, namun sejak 2014 hingga sekarang ia dipercaya ditempatkan di Sektor Khusus Masjid Nabawi, Madinah.

Iis mengaku bangga menjadi pembimbing jemaah haji Indonesia karena jemaah Indonesia terkenal tertib dan sopan sehingga petugas haji Arab Saudi pun merasa bangga dengan jemaah Indonesia.

Sebagai peziarah Raudhah, jamaah Indonesia paling banyak. Mereka sudah diatur sedemikian rupa agar jemaah bisa tertib. Namun, pada kenyataanya dari negara lain tidak bisa tertib seperti Indonesia.

Saat giliran Indonesia ziarah, jamaah dari negara lain yang berpostur tubuh besar seperti Bangladesh, Afganistan, India, bahkan dari Arab sendiri terkadang memaksa untuk masuk. Mereka sering tidak peduli dengan jamaah lain yang mengantre. Maka, saat-saat itulah nyawa menjadi taruhannya.

“Banyak jemaah Indonesia yang baru pertama kali datang ke Masjid Nabawi. Mereka tidak tahu Raudhah itu apa, bagaimana ciri-cirinya. Dari situ, saya membimbing dan mengarahkan agar jamaah menjadi paham,” ujar Iis.

Suasana Pintu Masuk Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAWSuasana Pintu Masuk Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW (foto: Amril Amarullah/Okezone)

Selain itu, Iis pun mengarahkan agar jemaah lebih tenang, tertib, khusuk, dan khidmat dalam beribadah. “Tujuan berkunjung ke Raudhah adalah menambah keimanan jemaah, artinya harus punya adab dalam berziarah. Oleh karena itu saya tak henti-henti mengingatkan jamaah,” lanjutnya.

Sebagai anggota Sektor Khusus, Iis pun memiliki tugas lain seperti mengantar jamaah yang tersesat hingga sampai di hotel atau mengumpulkan “barcer” (barang tercecer), yaitu mengamankan barang yang tertinggal di masjid atau saat mengantre di Raudhah.

Harapan Iis hanya satu, yaitu jamaah dapat menjalankan ibadah dengan tertib dan kembali ke Tanah Air menjadi haji yang mabrur.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini