nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menyusuri Hejaz Railway, Potret Kereta Api Pertama di Madinah

Amril Amarullah, Jurnalis · Minggu 16 September 2018 19:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 16 395 1951269 menyusuri-hejaz-railway-potret-kereta-api-pertama-di-madinah-CHmlYEPJgp.jpeg Hejaz Railway (Foto: Amril Amarullah)

MADINAH - Destinasi wisata Arab Saudi boleh dikatakan masih minim. Bahkan, dua kota suci yang kerap menjadi tujuan umat muslim di dunia untuk berhaji dan umrah masih disuguhkan sebatas situs-situs bersejarah peninggalan Rasulullah SAW, dan itupun sebagian sudah dihilangkan.

Kini, Arab Saudi lagi getol-getolnya mencanangkan gerakan Saudi Vision 2030. Gerakan Saudi membangun sejumlah sektor ini, sebagai upaya melepaskan negara tersebut dari ketergantungan pada minyak.

 Hejaz Railway

Sektor pariwisata diharapkan mampu mengganti pendapatan negara dari penjualan minyak. Salah satu yang tengah dikembangkan adalah Hejaz Railway Museum.

Lokasi ini bakal disulap menjadi sebuah restorasi wisata menarik dan bisa menjadi magnet para jamaah haji maupun umrah. Minimal bisa menjadi tempat hiburan warga setempat.

Ketika Okezone menyambangi lokasi itu, sekilas tempat tersebut hanya lahan luas yang di sekelilingnya ditanami pohon-pohon yang memberikan kesejukan di tanah yang tandus dan panas ini.

Waktu itu, menjelang salat magrib, karena aturan pemerintah Arab Saudi melarang toko atau tempat wisata tutup 30 menit sebelum dan sesudah azan, akhirnya Okezone harus kembali usai salat.

 Hejaz Railway

Beruntung lokasi museum dengan Masjid Nabawi tidak terlalu jauh, hanya 2 kilometer dengan berjalan kaki. Tiket masuk hanya 5 riyal atau sekitar Rp 20 ribu per orang. Saat peak season, tiket dijual dengan harga dua kali lipat atau 10 riyal.

Sayangnya, karena malam hari, pengunjung terlihat sepi. Hanya ada beberapa warga setempat yang terlihat duduk-duduk di kursi taman.

"Kalau sore memang sepi, soalnya menjelang Magrib. Setelah salat Isya biasanya ramai, tapi itupun kalo hari Jumat," kata Muhammad Rofii warga Indonesia yang menetap di Arab Saudi yang juga pemandu wisata.

Siapapun bingung ketika masuk museum tersebut, karena disana hanya ada taman, warung kopi, makanan ringan atau cemilan dan sejumlah kursi yang tertanam di antara sudut sudut taman. Ada yang bentuknya melingkar, kotak dan berjajar.

Ternyata tidak hanya disitu, museum kereta api pertama itu, menyimpan 2 lokomotif dan 12 gerbong pertama milik Arab Saudi, berjarak 200 meter dari taman utama.

 Hejaz Railway

Lokomotif itu pernah berjaya pada masanya. Kondisinya meski sudah terlihat uzur namun oleh Kementerian Pariwisata Arab Saudi lokomotif dan gerbong diperbahurui, namun tidak menghilangkan bentuk aslinya. Sehingga masih terlihat bagus. Menurut sejarah, 2 lokomotif yang dipajang di area taman pernah beroperasi pada tahun 1900-an.

Agak masuk ke dalam, terdapat amphitheater mini untuk tempat pertunjukan atau sekadar nongkrong. Di antara pepohonan terdapat jalan setapak. Sisi kiri dan kanannya dilengkapi bangku panjang untuk tempat duduk pengunjung.

Ada pula taman rumput yang dihiasi pepohonan kurma. Saat malam, lampu berkilauan tergantung di pohon-pohon kurma. Menambah suasana malam semakin hidup. Sekilas mirip Taman Suropati di Menteng, Jakpus.

Pembangunan memang belum selesai 100 persen, rencananya, di beberapa lokasi terlihat material proyek masih berserakan. Rencananya, museum itu dilengkapi dengan kids zone untuk area permainan anak. Ada juga rencana pembangunan taman baru yang sedang dikerjakan.

 Hejaz Railway

Museum ini masuk wilayah distrik Al-Anbariya. Pada masa lalu, kawasan tersebut merupakan stasiun kereta api aktif. Dari data yang dikutip dari beberapa sumber menyebutkan, jaringan rel kereta api itu dibangun pada tahun 1900 dan selesai pada 1908. Kedatangan perdana kereta di Madinah pada 1 September 1908.

Rel tersebut pernah menghubungkan kawasan Damaskus (Syria) dengan Madinah (Arab Saudi). Jaraknya sekitar 1.320 kilometer. Pada masa itu, kereta api tersebut menjadi satu-satunya alat transportasi umum yang dimanfaatkan oleh jamaah haji dari Syria, Jordania, Pakistan, Iraq, dan Turki.

Sebelum kereta api tersebut beroperasi, perjalanan menuju Arab Saudi butuh waktu sekitar 40 hari menggunakan hewan unta. Setelah kereta api beroperasi, jarak tempuh perjalanan hanya lima hari.

 Heja

Perang dunia pertama telah menghancurkan stasiun dan beberapa jaringan rel kereta. Akhirnya pada 1921, kereta api tersebut benar-benar berhenti beroperasi.

Pada 1983, pengelolaan Hejaz Railway Station diserahkan pada lembaga bernama Antiquities and Museum Agency. Lalu, pada 1998, Gubernur Madinah Prince Abdul Majeed bin Abdulaziz meresmikan dimulainya proyek restorasi stasiun tersebut. Proyek tersebut dikendalikan oleh Saudi Commission for Tourism and Antiquities (SCTA). Saat itulah stasiun itu diubah menjadi museum.

Museum kereta api pertama itu sekarang menjadi satu dengan kantor Al Madina Al-Munawarah Antiquities yang memamerkan foto-foto Madinah masa lalu.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini