PPIH Kerap "Kecolongan" Bus Salawat Ditumpangi Jamaah Asing

Amril Amarullah, Jurnalis · Sabtu, 15 September 2018 - 13:57 wib
(Foto: Amril Amarullah/Okezone)

MAKKAH - Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi Subhan Cholid mengatakan, pihaknya terus melakukan perbaikan-perbaikan terkait pengadaan transportasi untuk jamaah selama di Tanah Suci.

Selama musim haji tahun ini, diakui Subhan masih ada beberapa catatan perbaikan dimasa yang akan datang.

Di antarnya, Subhan menegaskan lantaran terbatasnya jumlah petugas transportasi dan terminal, bus salawat kerap kecolongan dengan masuknya jamaah haji dari negara lain.

"Kami setiap minggu melakukan evaluasi seluruh tim, bagi kami sebenarnya masih ada yang diperbaiki di lapangan. Karena jumlah petugas sedikit, kami belum bisa mengamankan bus salawat dari penumpang asing (negara lain) yang ikut masuk," ucap Subhan, di Makkah.

Foto: Amril Amirullah/Okezone

Subhan juga mengevaluasi soal sopir bus salawat dengan aturan pergantian shift. Menurutnya, peraturan yang dibuat perusahaan bus terlalu ketat dan tidak menguntungkan jamaah haji Indonesia.

Karena itu, Subhan mengatakan pihaknya akan terus melakukan perbaikan dari semua sisi sampai berakhirnya masa layanan bus salawat.

Seperti diketahui, PPIH Arab Saudi sudah menyiapkan tiga jenis layanan transportasi darat selama di Haramain. 

Pertama, transportasi antar kota perhajian, yaitu: Jeddah, Makkah, dan  Madinah. Ada enam rute layanan ini,  yaitu: dari bandara Madinah ke pemondokan Madinah,  Madinah ke Makkah,  Jeddah ke Makkah,  Makkah ke Jeddah, Makkah ke Madinah, serta dari pemondokan Madinah ke bandara Madinah.

Foto: Amril Amirullah/Okezone

Layanan antar kota perhajian ini, disiapkan oleh tujuh perusahaan. Bus yang disiapkan paling tua produksi  2014, dengan rincin sebagai berikut: 

1. Saptco (bus produksi tahun 2017 dan 2018); 

2. Rawahel (2015 sampai 2018);

3. Rabitat Makkah (2014 sampai 2017);

4. Dallah (2015 sampai 2018); 

5. al Massah (2015 sampai 2018);

6. al Qaid (2015 sampai 2018); dan 

7. Hafil (2015 sampai 2018)

Kedua, transportasi salawat ini disiapkan kali pertama pada tahun 2008, saat dilakukan pembongkaran hotel sekitar Masjidil Haram. Waktu itu, pemondokan jemaah Indonesia yang terdekat berjarak 2km, sedang yang jauh sekitar 15km. Sebab,  gedung yang ada di dekat Masjidil Haram harganya sangat mahal.

Karena jauh, harus disediakan bus. Saat itu PPIH sewa 600 bus dari perusahaan Ummul Qurra, namun belum ada sistem kontrol. 

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini