"Ojek Payung" di Bandara Madinah Laris Manis Diserbu Jamaah

Amril Amarullah, Jurnalis · Kamis, 13 September 2018 - 05:55 wib
(Ojek payung jamaah haji (Foto: Amril Amarullah))

MADINAH - Bila di Indonesia istilah ojek payung biasa digunakan anak-anak untuk menjual jasanya ketika musim penghujan tiba. Berbeda dengan di Tanah Suci, disaat panas matahari yang begitu terik hingga mencapai 43-45 derajat celcius, payung menjadi alat pelindung tubuh paling mujarab.

Siang itu di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz Menunjukkan pukul 12.00 siang. Matahari di atas kepala tidak tampak bayangan ketika setiap orang berdiri. Jamaah haji yang baru saja turun dari bus menuju tempat istirahat sebelum diberangkatkan ke Tanah Air, harus melewati jalan tanpa atap satupun.

Mereka adalah rombongan jamaah Kloter 48 debarkasi Surabaya yang baru saja turun dari bus. Sesemi (57), jamaah asal Lamongan ini berkeluh panas ketika mendarat di pelataran bandara. "Ya Allah, panas sekali rasanya," ucap Sesemi berkeluh, Rabu (12/9/2018).

 Ojek Payung

Bukan hanya Sesemi, banyak jamaah lain pun mengalami hal serupa, ada yang menutupi kepalanya dengan tangan, ada yang menggunakan tas atau peralatan seadanya di tangan.

Mengetahui kesulitan jamaah, petugas pun bergegas menghampiri untuk membantu. Juriyansyah misalnya, salah seorang petugas Daker Bandara PPIH Bandara langsung dengan cekatan merapat.

Ia kembangkan payungnya dan kemudian melindungi Sesemi dari terik. “Waduh makasih, Pak. Makasih banyak,” kata Sesemi menyambut gestur tersebut.

Sementara Kartika, petugas Daker Bandara lainnya juga nampak memayungi Soimatun (56) itu hari. Soimatun nampak berjalan tertatih-tatih dari bus. Dengan sigap, petugas bsrlari untuk melindungi jamaah tersebut dari sengatan panas. “Terimakasih nak, saya baru habis dirawat di rumah sakit enam hari, jadi tidak bisa berlari,” kata dia.

Beberapa hari belakangan, pemandangan petugas Daker Bandara membawa-bawa payung di Bandara Madinah jadi marak. Hal ini sehubungan terik yang makin menjadi-jadi sementara jarak dari bus menuju paviliun bisa mencapai 30 hingga 100 meter. Dengan paparan terik sebegitu, jamaah lansia dan yang dirundung sakit tetancam kesehatannya.

 Ojek Payung

“Kami lihat jamaah lama memilih-milih tas di samping bus dan kepanasan, sebab itu langsung kami payungi,” kata Endang Maman, pelaksana tugas Daker Bandara. Para petugas Daker Bandara memanfaatkan payung jamaah yang dilarang pihak maskapai masuk pesawat.

“Banyak jamaah yang kepanasan dan butuh kursi roda, kasihan mereka. Makanya setip petugas bawa payung buat mayungin, gratis. Mereka suka banget, lucu kata jamaah, ada yang bilang ojek payung pula,” kata Febry Lazuardi, petugas Daker Bandara lainnya.

Ketua Sektor 1 Daker Bandara, Misroni, perlindungan para jamaah dari teriknya Madinah memang penting sekali. Ia juga mengharapkan, ketua kloter dan ketua rombongan bisa memberi arahan agar jamaah membawa payung bila bertolak ke Bandara Madinah siang hari menuju pemulangan.

Hal ini untuk menghindari para jamaah terkena dehidrasi. Terlebih, jumlah petugas tak cukup bila harus memayungi jamaah satu per satu.”Di tengah cuaca panas seperti ini, payung itu penting sekali,” kata dia di Bandara Madinah.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini