alexametrics

Berhaji di Tengah Keterbatasan, Pria Tunanetra Asal Lombok Ini Jadi Inspirasi

Amril Amarullah, Jurnalis · Rabu, 12 September 2018 - 11:16 wib
(Suparman jamaah haji penyandang tunanetra asal Lombok. (Foto: Amril Amarullah/Okezone))

MADINAH – Keterbatasan fisik bukanlah halangan bagi Suparman (50) untuk bisa melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Berangkat dari niat karena Allah Subhanahu wa ta’ala, pria tunanetra ini bisa menunaikan rukun Islam kelima itu dengan sempurna, meski di tengah ketidaksempurnaan.

Ditemui di Bandara Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, Arab Saudi, pria dengan dandanan style Arabic itu sempat menjadi pusat perhatian, lantaran ketika malam tiba dan di dalam ruang tunggu bandara, pria itu masih menggunakan kacamata hitam.

Bukan karena mau bergaya, tetapi karena kedua matanya tidak lagi bisa melihat. Sehingga, jamaah haji asal Debarkasi Lombok Kloter 9 itu selama ibadah haji hingga pemulangan harus dituntun istrinya Minarsik dan adiknya Winarsih.

Bagi seorang jamaah laki-laki, Suparman terlihat gagah mengenakan top putih dan sorban di kepala, yang sebagian dililitkan layaknya Pangeran Diponegoro. Hari itu, mereka tengah bersiap kembali ke Tanah Air.

Saat ditanya, dia mengaku sebagai tunanetra. Tidak jelas sejak kapan dia mengalami keterbatasan itu. Baginya itu mengapa, yang terpenting dia bersyukur bisa menyelesaikan rangkaian haji dengan sempurna layaknya jamaah normal.

"Meskipun saya ada keterbatasan tapi alhamdulillah semua rangkaian ibadah haji saya tidak ada yang tertinggal," ucap Supratman dengan penuh bangga.

Selama berhaji, ia mendapat bimbingan langsung dari sang istri tercinta dan sesekali adiknya ikut membantu. "Semua dipandu istri saya," imbuhnya. Dia juga tidak pernah merasa berat untuk beribadah meskipun kondisinya tidak sempurna.

"Semua saya kerjakan dengan baik tanpa kursi roda," tutur Supratman yang ternyata berprofesi sebagai guru olahraga di SDN Kawo Lombok Tengah.

Begitupun ketika melakukan tawaf dan sai, Suparman tidak pernah lepas dari genggaman sang istri dan adiknya, dengan cara berpegangan pada pundak teman agar tidak terpisah.

"Saat di Jamarat, saya digandeng istri terus, terkadang sama adik saya juga," jawab Supratman.

Winarsih (47), adik kandung Supratman, mengaku kalau kakaknya itu selama berhaji cukup mandiri layaknya orang normal.

"Bahkan ketika di rumah bisa perbaiki listrik sendiri," ujar Winarsih yang juga merupakan seorang pengajar di Madrasah Ibtidaiyah.

Seperti diketahui, Suparman dan keluarga tergabung dalam Kloter LOP-9 akan diterbangkan pada pukul 00.45 WAS dari Bandara PMAA Madinah. Sebanyak 455 jamaah bersama petugas kloter menggunakan pesawat Garuda nomor penerbangan GIA-5209.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini