Nasib Masjid Umar bin Khattab yang Terhimpit Dua Hotel Mewah

Amril Amarullah, Jurnalis · Sabtu, 8 September 2018 - 14:59 wib
(Masjid Umar bin Khattab (Foto: Amril Amarullah))

MADINAH - Kota Madinah banyak menyimpan bukti sejarah era keemasan peninggalan Islam. Setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW, penyebaran ajaran Islam ke suluruh penjuru jazirah Arab begitu pesat.

Hal itu ditandai dengan banyaknya tempat-tempat situs bersejarah. Di antara yang kini tersisa adalah bangunan masjid. Keberadaannya tetap dipertahankan sebagai bukti sejarah Islam dimasa itu, seperti Masjid Nabawi, Masjid Ummamah, Masjid Ali bin Abithalib, Masjid Abu Bakar dan Masjid Umar bin Khatab.

Dari keempat masjid yang tersisa yang pernah dibangun Rasulullah dan para sahabatnya adalah masjid Umar yang letaknya agak berjauhan. Sedangkan masjid Ali bin Abithalib, Abu Bakar dan Masjid Nabawi saling berdekatan.

 Masjid Umar bin Khattab

Berbeda dengan lainnya, Masjid Umar bin Khattab memang terletak lebih jauh ketimbang tiga masjid lain di sekitar Masjid Nabawi. Jarak Masjid Umar berkisar 650 meter, barat daya Masjid Nabawi. 10 menit berjalan kaki menurut perhitungan Google Maps.

Uniknya, masjid tersebut terletak diantara dua bangunan menjulang tinggi. Tertutup jaring-jaring hijau, tampak pula tiang-tiang crane. Beton-beton itu merupakan calon bangunan hotel yang hampir jadi.

Ketinggian bangunan yang belum rampung itu menyalip ketinggian menara masjid. Tak banyak yang tahu, masjid yang kini terapit dua hotel itu merupakan Masjid Umar bin Khattab.

Sayangnya tidak banyak informasi mengenai situs bersejarah ini. Berdasarkan kisah, Masjid Umar dahulu merupakan rumah sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab. Masjid ini juga disebut digunakan Rasulullah dan Umar untuk melaksanakan salat Id.

Masjid Umar itu kini hanya bangunan dengan kubah serba putih yang tertutup rapat-rapat tanpa bisa dimasuki para jamaah haji yang tengah beribadah di Madinah, dan juga tidak bisa digunakan untuk salat.

Pembangunan Masjid Umar diinisiasi oleh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad As-Salawi pada 850 Hijriah. Masjid ini kemudian direnovasi oleh Sultan Mahmud II pada 1254 Hijriah. Putra Sultan Mahmud II, Sultan Abdul Majid I melanjutkan renovasi masjid ini pada 1255 Hijriah.

Dalam buku Al Madinah karya Al Madinah Al Munawwarah Research and Studies, Masjid Umar memiliki panjang sisi sekitar 8 meter. Dinding Masjid Umar menggunakan batu basal, dicat dengan warna putih. Sementara itu, menara yang berdiri memiliki tinggi 12 meter.

Masjid Umar pada 2014 sempat menjadi salah satu dari tiga masjid di Madinah yang akan direstorasi oleh The Saudi Commission for Tourism and Antiquities (SCTA) yang merupakan badan milik pemerintah Saudi untuk barang antik dan turis itu merestorasi beberapa masjid penting sebagai bagian dari mengenalkan sejarah agama.

Presiden SCTA, Prince Sultan bin Salman dikutip dari Arab News mengatakan, masjid-masjid yang direstorasi akan dibuka untuk salat sebagai bagian dari situs warisan urban untuk mengenalkan peran agama dan sejarah di masyarakat.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini