nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gua Hira yang Jadi Saksi Wahyu Pertama

Rafida Ulfa, Jurnalis · Minggu 26 Agustus 2018 07:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 24 395 1940892 gua-hira-yang-jadi-saksi-wahyu-pertama-FIyTNAswra.jpg Foto: Ist

JAKARTA - Gua Hira terletak di lereng Jabal Nur, suatu bukit yang berada lebih kurang 6 km di sebelah utara Masjidil Haram. Gua Hira adalah tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT yang diturunkan malaikat Jibril. Wahyu pertama yang diterima beliau adalah Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5.

Dikutip dari Buku Cerdas Haji dan Umrah, untuk mendaki bukit yang terdiri atas susunan batu-batu tajam dan licin itu diperlukan waktu sekitar 1-1,5 jam. Tergantung pada kepadatan jamaah umrah atau haji yang ikut mendaki bukit dengan sudut kemiringan antara 60-70 derajat itu.

Dalam riwayat disebutkan, tatkala Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun, semakin mendalam-lah hasrat beliau untuk menyendiri guna menjernihkan hati dan pikiran mengingat kondisi kehidupan sosial masyarakatnya yang sarat dengan kejahiliyahan. Beliau pergi, mencari tempat yang dianggap tepat untuk ber-tahannuts.

Di dalam gua itulah Nabi Muhammad SAW mengasingkan diri. Beliau melakukan ini semata-mata demi memenuhi kebutuhan rohaninya; kebersihan hati, kelembutan perasaan, kejernihan pikiran dan pandangan.

Hingga suatu malam yang gelap, di malam 17 Ramadan atau sekitar 6 Agustus 610 M, Sang Rasul terbangun dari tidurnya. Beliau terbangun karena mendengar kedatangan sesuatu yang mengejutkan sekaligus membuat dirinya sangat ketakutan. Dialah Jibril yang tiba-tiba sudah berada di hadapan beliau lali berkata dengan lantangnya.

“Gembiralah wahai Muhammad! Saya Jibril dan engkau adalah rasul Allah SWT untuk umat ini.”

Setelah menunjukkan suatu tulisan – demikian suatu sumber menyebutkan- Jibril memerintahkan Muhammad untuk membacanya. Diceritakan, kala Jibril menuntun beliau membaca. Ada yang berpendapat bahwa maksud membaca ini merupakan perintah (amr) takwim, bukan perintah taklif; yaitu diperintah supaya beliau menjadi pembaca. Dengan demikian, maksud perintah tersebut adalah, “Jadilah engkau pembaca dengan kodrat dan iradat Tuhan.”

“Bacalah!” Kata Jibril. Nabi SAW menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian Jibril memeluk dan mendekap beliau erat-erat sehingga Nabi merasa kepayahan. Jibril lalu melepaskan dekapannya dan kembali berkata, “Bacalah!”

Nabi tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Untuk kedua kalinya Jibril memeluk dan mendekap Nabi dan beliau pun kembali kepayahan. Setelah melepaskan lagi dekapannya terhadap Nabi, Jibril berkata, “Bacalah!”

Nabi masih menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril memeluk dan mendekap Nabi dan beliau pun kembali kepayahan. Setelah melepaskannya, Jibril menuntun Nabi dengan kalimat tertulis dalam Al-Qur’an, yang artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq [96]: 1-5).

Dengan diterimanya wahyu pertama dari Allah SWT, maka dengan sendirinya Muhammad SAW diangkat sebagai nabi sekaligus rasul Allah. Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi mengatakan, nabi sekaligus rasul adalah orang yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada orang lain. Sedangkan nabi yaitu orang yang menerima wahyu tapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang lain. Sebagai nabi sekaligus rasul, berarti wahyu yang diterima Muhammad untuk disampaikan kepada manusia.

Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan, Nabi adalah seorang manusia yang diberikan wahyu dengan suatu syariat untuk diamalkan, tetapi tidak diperintahkan menyampaikan kepada kaumnya. Sedangkan rasul adalah seorang manusia yang diberikan wahyu dengan syariat untuk diamalkan dan dia diperintahkan untuk menyampaikannya. Muhammad SAW menyampaikan wahyu-wahyu Allah SWT tidak hanya kepada kaumnya, tetapi juga kepada seluruh umat manusia. Jadi semakin jelaslah bahwa Muhammad SAW adalah seorang nabi sekaligus rasul. Nabi dan rasul terakhir. Firman Allah yang artinya:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab [33]-40)

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Qs Ahzab [133]:45)

Layaknya seorang nabi dan rasul Allah SWT, Muhammad SAW memiliki sifat-sifat utama seperti dimiliki oleh para nabi dan rasul Allah sebelumnya. Sifat-sifat itu adalah:

1. Shiddiq. Shiddiq berarti "benar"; benar dalam perkataan dan perbuatan. Mustahil jika seorang nabi dan rasul seperti halnya Muhammad SAW adalah seorang pembohong.

2. Amanah. Amanah artinya "terpercaya" atau "dapat dipercaya. Jadi, tidaklah mungkin seorang nabi dan rasul adalah seorang sosok yang suka berkhianat.

3. Fathanah. Fathanah adalah "cerdas", "pandai" atau "pintar am perka dan perbuatan. Sungguh mengherankan seandainya seorang nabi dan rasul Allah merupakan seseorang yang bebal, idiot, dan tidak mengerti apa pun.

4. Tabligh. Tabligh adalah "menyampaikan" wahyu atau risalah dari Allah SWT kepada orang lain. Dengan begitu nabi dan rasul yang benar, tidak mungkin menyembunyikan dan merahasiakan wahyu atau risalah dari. Dia akan menyampaikan wahyu-wahyu Tuhan sekalipun ditentang keras oleh kaumnya.

Allah SWT pasti mempunyai maksud tertentu dengan menurunkan Al-‘Alaq 1-5 sebagai wahyu pertama yang diterima Muhammad SAW. Memang hanya Allah SWT yang mengetahui persis maksudnya. Namun, seandainya kita melakukan pengkajian terhadap kandungan ayat-ayat tersebut, maka kita akan menemukan berbagai keutamaan.

Surat Al-Alaq 1-5 syarat dengan nilai-nilai fundamental dan filosofis. Kelima ayat tersebut menyentuh tiga aspek utama dari kehidupan: Tuhan, manusia dan alam. Ketiga aspek ini menjadi jiwa dalam sejarah perkembangan pemikiran manusia. Tidak dapat dipungkiri, bahwa surat Al-'Alaq 1-5 juga turut menjadi landasan gerakan perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW berikutnya.

Di samping itu, pokok dari ajaran wahyu ini adalah perintah membaca. Kata “iqra” merupakan bentuk kata perintah (fi’il amar) yang berarti "bacalah". “Bacalah" di sini tidak: hanya "membaca" dalam arti mengeja huruf dalam suatu kalimat, tetapi juga harus dimaknai dengan membaca ayat-ayat (tanda-tanda) Allah SWT; baik yang terdapat di dalam diri manusia dan arti lingkungannya, maupun yang terhampar di alam semesta.

Surat Al-Alaq menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari suatu yang hina kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Iqra, yang berarti “bacalah”, mengadung hal penting dalam berdakwah. Apalagi dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim (fardu ain).

Di dalam Al-Qur'an banyak terdapat ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk mendahulukan mempelajari ilmu, kemudian menerapkannya, serta menyampaikannya pada orang lain sebagai jalan dakwah.

Pemahaman terhadap prinsip-prinsip Islam memang harus dimiliki terlebir dahulu sebelum menerapkannya. Melaksanakan ajaran Islam dan menyiarkan tapi tanpa dilandasi ilmu tidak sepatutnya dilakukan. Islam adalah agama yang mengedepankan pentingnya pendidikan dan pemahaman.

1
2

Berita Terkait

Wisata Religi

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini