nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Bukit Shafa dan Penolakan Abu Lahab

Rafida Ulfa, Jurnalis · Sabtu 25 Agustus 2018 07:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 24 395 1940887 kisah-bukit-shafa-dan-penolakan-abu-lahab-dMKOaBI5xt.jpg

JAKARTA - Tidak seperti Jabal Nur, Jabal Tsur, atau Jabal Rahmah, keberadaan Bukit Shafa dan Marwah sudah mengalami banvak sekali perubahan karena kini menyatu dengan komplek bangunan Masjidil Haram.

Namun demikian, di Bukit Shafa, terkandung sejarah yang sangat penting karena di sanalah periode dakwah secara terbuka dimulai oleh Nabi Muhammad SAW.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (kamu).” (Qs. Al-Hijir [15]:91-95).

Dikutip dari Buku Cerdas Haji dan Umrah, ayat ini bermaksud memerintahkan Nabi AS agar terus bergerak mengajarkan apa yang diperintahkan Allah. Sekaligus jangan memperdulikan gangguan orang-orang yang akan menentang ajaran Islam.

Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW mendatangi perkampungan yang didiami para kerabat terdekat. Beliau memanggil sanak saudaranya untuk berkumpul di Bukit Shafa. Di sana, Nabi AS pun mengabari Abu Lahab untuk ikut serta. Menurut beliau, dia masih termasuk keluarga dekat. Apalagi, Nabi AS menyadari bahwa ajaran yang diterimanya harus disampaikan, menerima atau menolak itu perkara lain.

Setelah berkumpul di kaki Bukit Shafa, beliau membuka pertemuan dan berbicara di hadapan hadirin. Tiba-tiba Abu Lahab berteriak sehingga mengejutkan para hadirin. "Celakalah kamu wahai Muhammad! Apakah hanya untuk ini saja kamu mengumpulkan kami semua?" teriaknya. Segera ia mengambil batu, hendak melempar Nabi AS. Sementara itu Nabi diam sejenak karena suasana menjadi gaduh.

Dengan muka merah padam, Abu Lahab melanjutkan, "sama sekali, belum pernah aku melihat orang yang datang pada keturunan orang tuanya dan kaumnya, yang lebih keji daripada apa yang engkau tunjukkan itu." Pada saat itu turunlah wahyu kepada Nabi AS yang berbunyi; "Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan sangat celakanya, "(QS. Al-Lahab [111]:1).

Sementara itu Abu Lahab masih marah-marah sambil berkata, “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka aku tebus dirinya dengan harta bendaku dan anakku." Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi, bahwa: “Tidaklah berguna darinya (Abu Lahab) harta bendanya dan segala usahanya." (QS. Al-Lahab [111]:2).

Mengingat Abu Lahab terus-menerus berceloteh sehingga pertemuan itu menjadi gaduh, maka Nabi kemudian membubarkan pertemuan tersebut. Namun setelah pertemuan bubar, di antara mereka meminta Nabi untuk mengadakan pertemuan berikutnya dengan catatan; Abu Lahab tidak diberi tahu. Nabi menyetujui usul tersebut karena memang beliau sudah merencanakannya.

Waktu yang telah ditentukan sudah tiba. Pertemuan kedua masih diadakan di kaki Bukit Shafa. Namun dalam pertemuan kali ini, yang hadir tidak hanya kaum kerabat beliau, tetapi juga dihadiri orang-orang Quraisy lainnya. Ketika itu yang hadir berjumlah 40 orang, menurut riwayat lain 45 orang.

Dalam sambutannya Nabi AS sempat mengatakan, "Demi Allah jika aku akan berdusta kepada manusia, sungguh aku tidak akan berdusta kepada kalian. Dan jika aku menipu manusia, tentulah aku tidak akan sampai hati menipu kalian. Demi Allah yang tidak ada tuhan melainkan Dia, sesungguhnya aku ini utusan Allah SWT kepada kalian khususnya dan kepada seluruh manusia pada umumnya. Sungguh! Kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, kalian akan menerima balasan yang sesuai; yang baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang jahat akan dibalas dengan kejahatan. Pembalasan itu ada di surga selamanya atau di neraka selamanya."

Masih menurut beliau, “sesungguhnya aku telah datang kalian dengan membawa urusan dunia dan akhirat”. Lebih lanjut Nabi berseru. "Hai sekalian kaum Quraisy, hendaklah kalian menyelamatkan diri dari api neraka. Sesungguhnya sedikit pun aku tidak mampu menolong kalian kelak di hadapan Allah.”

Nabi menyeru, "Hai keturunan orang-orang Ka’ab bin Luayy hendaklah kalian menyelamatkan diri kalian sendiri dari api neraka. Hai orang-orang keturunan Murrah bin Ka'ab, hendaklah kalian menyelamatkan diri kalian sendiri dari api neraka. Hai orang-orang keturunan Hasyim, hendaldah kalian menyelamatkan diri kalian sendiri dari api neraka. Hai orang-orang keturunan Abdu Manaf, hendaklah kalian menyelamatkan dini kalian sendiri dari api neraka. Hai orang-orang keturunan Abdu Syams, hendaklah kalian menyelamatkan diri kalian sendiri dari api neraka. Hai orang-orang keturunan Zuhra, hendaklah kalian menyelamatkan diri kalian sendiri dari api neraka. Hari orang orang keturunan Abdul Muthalib, hendaklah kalian menyelamatkan diri kalian dari api neraka."

Demikianlah Nabi menyeru mereka untuk menolong dirinya sendiri dari siksa api neraka. Caranya dengan mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tiada satupun yang dapat menyamai-Nya.

Menurut riwayat, waktu itu hadirin sempat terdiam mendengar seruan Nabi AS. Abu Lahab yang ternyata hadir sekalipun diam mukanya menunjukkan kebecian. Akhirnya sebagian hadirin meninggalkan tempat tersebut dan sebagian lagi menunggu Nabi AS selesai menyampaikan seruanya.

Merasa tidak puas hanya berdiam diri, Abu Lahab berteriak dengan congkaknya. "Hai orang-orang keturunan Abdul Muthalib! Demi Latta dan ‘Uzza. Sesungguhnya Muhammad itu jahat! Cobalah kalian menariknya dan membawanya ke sini. Kamu semua hendaknya melarang dia berkata-kata seperti itu! Sebelum dia ditangkap dan dipenjarakan oleh seluruh bangsa lain, lebih baik kita sendiri yang memenjarakannya. Dia orang muda yang telah berubah ingatannya! Jika kalian mengikuti dia maka kalian akan menjadi orang yang hina dina. Jika kalian menuruti dia, maka kalian akan diperangi oleh bangsa lain kelak!"

Mendengar Abu Lahab berbicara demikian, bibi Nabi Shafiyyah binti Abdul Muthalib (saudara perempuan Abu Lahab), menegurnya,"Wahai saudara laki-lakiku, apakah sangkaanmu kepada anak laki-laki dari saudara laki-lakimu itu (Muhammad SAW) sudah sepantasnya demikian? Demi Allah! Tidakkah para kepala agama-agama terdahulu telah memberitakan kepada kita dari keturunan Abdul Muthalib akan ada seorang bergelar nabi dan rasul Allah? Dan orang itu tiada lain dan tiada bukan adalah Muhammad adanya.”

Mendengar pernyataan lemah lembut Shafiyyah, Abu Lahab kian bertambah marah. “Demi berhala Latta dan 'Uzza. Itu adalah dongeng dusta! Itu adalah cerita kosong! Hendaknya kalian tangkap saja Muhammad sebelum bangsa Arab bersatu untuk memerangi kalian! Jika bangsa Arab dan suku Quraisy lainnya melawan Muhammad, dia bisa apa? Apa kekuatan Muhammad? Apa daya Muhammad untuk melawan musuh-musuhnya? Apa senjata Muhammad dan kawan-kawannya untuk melawan musuh? Tidak lain Muhammad akan ditelan kepalanya mentah-mentah oleh orang-orang Quraisy.”

Kini, giliran Abu Thalib yang merasa tidak senang terhadap ucapan keji Abu Lahab. Dengan lantang, ia membela Muhammad SAW, keponakannya itu. "Sungguh! Akulah yang akan menghalanginya selama aku masih hidup!"

Mendengar jawaban setegas itu, Abu Lahab tidak berkata apa-apa. Namun pertemuan menjadi kacau karena terjadi mulut antara yang mendukung dakwah Nabi AS dengan yang menolaknya. Pertemuan itu pun akhirnya bubar karena terjadi adu mulut antara yang mendukung dakwah Nabi AS dengan yang menolaknya. Pertemuan itu pun akhirnya bubar.

Pada tahapan berikutnya, Nabi AS menyeru penduduk Mekkah secara lebih terang-terangan. Dakwah tersebut disampaikan kepada semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial, suku bangsa, ataupun jenis kelamin. Ketika Nabi mulai melancarkan dakwahnya, muncullah beragam respons dari kaum kafir Quraisy. Namun, sebelum wahyu berisi celaan terhadap tuhan-tuhan mereka turun, kaum musyrikin Quraisy tidak terlalu menghalangi jalan dakwah beliau. Baru setelah itu, mereka menampakkan sikap permusuhan yang nyata dengan Nabi Muhammad SAW.

Imam Thabari meriwayatkan dari 'Urwah bin Zubair, "Ketika pertama kali Rasulullah mengajak kaumnya untuk mengimani ajaran yang dibawanya, masyarakat Quraisy belum bersikap menjauhi beliau. Mereka tampak mendengarkan saja tanpa merespons. Namun kondisi ini mulai berubah, ketika beliau mulai mengkritik kesesatan yang dijalani kaum Quraisy. Ada sebagian masyarakat Quraisy yang datang dari Thaif dengan membawa banyak harta, tidak senang dengan kritikan Rasululah. Mereka kemudian melontarkan kritikan yang sangat tajam bernada kebencian. Mereka juga mencela kalangan yang bersikap loyal terhadap beliau.

Sebenarnya, karena akidah syirik yang menjadi keyakinan masyarakat Quraisy tidak memiliki dasar yang kuat, mereka sempat kebingungan berdalih dalam mempertahankan akidah yang diyakininya itu. Hal ini tampak jelas, ketika Al-Quran mengkritik akidah mereka, tidak ada satupun pemikiran mereka yang dapat menjawab kritikan tersebut (Syakir: 2005).

Akidah kaum musyrikin Quraisy memang tidak mempunyai pondasi dan arah pemikiran yang jelas. Selain itu, masih menurut catatan Syakir, tidak ada seorang pun di kalangan masyarakat musyrik Quraisy yang benar-benar dapat dikategorikan sebagai pemuka agama yang berusaha mempertahankan akidah leluhur yang mereka yakini.

Pertanyaannya; apa alasan yang sangat mendasar sehingga para pembesar musyrik Quraisy menentang keras dakwah Nabi? Para penulis sejarah mencatat, Quraisy khawatir mereka akan kehilangan keuntungan ekonomi yang sangat erat dengan posisi mereka sebagai penjaja tradisi kejahiliyahan dan paganisme.

1
2

Berita Terkait

Wisata Religi

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini