Menag Lukman Sarankan Lempar Jumrah Lansia Dibadalkan

Amril Amarullah, Jurnalis · Kamis, 23 Agustus 2018 - 19:28 wib
(Foto: Amril Amarullah/Okezone)

MAKKAH - Prosesi melempar jumrah memang berlangsung selama tiga dan empat hari. Tiga hari untuk mereka yang memilih nafar awal dan empat hari untuk nafar tsani.

Dalam rentan waktu itu, banyak jamaah yang berjatuhan lantaran kelelahan, mengingat jarak Mina-Jamarat sekira 6 kilometer yang harus ditempuh jamaah dengan berjalan kaki

Hari ini merupakan hari terakhir lempar jumrah bagi mereka yang memilih nafar tsani. Sedangkan kemarin adalah hari terakhir nafar awal.

Karena itu, kemarin jalanan menuju Jamarat tampak padat. Ribuan orang dari berbagai negara berduyun-duyun menuju gedung Jamarat yang berlantai tiga itu.

Proses melempar jumrah sebenarnya bisa dibadalkan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, jamaah lansia atau mereka yang punya masalah kesehatan sebaiknya tidak perlu melempar jumrah sendiri.

"Jamaah kita yang lansia atau dari sisi kesehatan tidak memungkinkan menempuh perjalanan berkilo-kilo, sebaiknya dibadalkan atau digantikan. Kalau yang sehat ya tentu harus melakukan sendiri," kata Lukman.

Menag meminta para kepala regu, kepala rombongan, dan pembimbing ibadah haji terus mengingatkan hal tersebut. "Khususnya kepada lansia yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan ke Jamarat," terangnya.

Karena jarak yang jauh pula, sebagian jamaah haji Indonesia tak mau tinggal di tenda. Terutama mereka yang hotelnya dekat ke Jamarat. Misalnya, jamaah haji yang tinggal di sektor 1, Syisyah. Mereka hanya ke Mina untuk mabit (menginap sejenak) selama delapan jam, lempar jumrah, lalu kembali ke hotel.

Begitu juga dengan jamaah haji yang tendanya berada di Mina Jadid (daerah perluasan Mina). Untuk yang ini, mereka tak mau tinggal di tenda karena merasa Mina Jadid bukan Mina. Padahal, mabit harus dilakukan di Mina.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini