Prosesi Haji Aman Dengan Crowd Management Mutakhir

Antara, Jurnalis · Senin, 13 Agustus 2018 - 11:12 wib
(Ilustrasi Foto/Ist)

MAKKAH - Pemerintah Kerajaan Arab Saudi akan menjadi tuan rumah untuk suatu prosesi ibadah terbesar di dunia yang mengundang sekitar tiga juta Muslim dari seluruh dunia.

Selama enam hari, yakni mulai tanggal 8 - 13 Dzulhijjah (19 - 24 Agustus 2018), tiga juta Muslim akan menunaikan ibadah haji yang juga merupakan salah satu dari Lima Rukun Islam.

Prosesi haji, yakni wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah di Jamarat, bermalam di Mina, serta tawaf dan sa'i di Masjidil Haram akan dilaksanakan oleh tiga juta Muslim dalam waktu bersamaan.

Foto/Reuters 

Tiga juta Muslim tersebut berasal dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia dengan beragam latar belakang budaya, bahasa, kelas sosial dan usia. Mereka juga memiliki kondisi fisik yang berbeda. Di antara tiga juta Muslim tersebut ada yang harus menggunakan kursi roda atau alat bantu lainnya, tak mampu melihat, mendengar, dan berbicara dengan sempurna, serta memiliki keterbatasan fisik lainnya.

Namun, seluruh prosesi haji wajib mereka tunaikan guna menyempurnakan ibadah yang telah berlangsung selama lebih dari 14 abad tersebut. Mereka akan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya secara serempak pada waktu yang tepat dan tidak boleh meleset.

"Crowd management" Mengelola pelaksanaan haji dan memastikan agar seluruh prosesinya berjalan baik, serta aman dan nyaman bagi seluruh jamaah, tanpa terkecuali, merupakan tantangan besar bagi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Karenanya, Pemerintah Kerajaan menerapkan "crowd management system" atau sistem pengendalian keramaian dengan teknologi mutakhir yang diklaim oleh Kepala Pasukan Keamanan Haji dan Umrah, Mayor Jenderal Muhammad bin Wasl Al-Ahmadi, sebagai sesuatu yang unik karena kondisi yang dihadapi selama pelaksanaan haji serta penanganannya tidak akan ditemukan di tempat lain di seluruh dunia.

Sistem pengendalian keramaian tersebut diterapkan di dua Kota Suci Islam, Mekkah dan Madinah dengan konsep, teknologi dan sumberdaya manusia yang seluruhnya berasal dari dalam negeri Kerajaan.

Menurut Mayjen Al-Ahmadi, misi pengawasan dan pengendalian keramaian yang dilaksanakan oleh pasukan keamanan haji dan umrah itu didukung oleh ribuan kamera yang dipasang di setiap titik di kompleks Masjidil Haram dan sejumlah lokasi pelaksanaan haji lainnya di Mekkah.

Kegiatan pengawasan dilakukan sepanjang hari selama 24 jam dari dalam ruang pengendalian operasi dengan sistem global. Seluruh pejabat dan pemimpin lembaga pemerintah terkait selalu hadir untuk memastikan kegiatan pengawasan tersebut berjalan lancar dan siap untuk menghadapi potensi ancaman yang setiap saat bisa muncul.

Mayjen Al-Ahmadi mengatakan pasukan khusus tersebut memiliki kekuatan yang sangat memadai serta menerapkan beragam strategi yang disusun dengan perhitungan yang sangat matang.

Pasukan khusus pengendalian keramaian haji dan umrah tersebut terlatih untuk menangani semua jenis keadaan darurat serta risiko yang bisa menimpa siapa saja dan terjadi kapan saja.

Mayjen Al-Ahmadi menekankan bahwa kegiatan pengawasan dan pengendalian keramaian di dua Kota Suci dijalankan dalam perlindungan Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga seluruh sistem diterapkan oleh pasukan dengan disiplin tinggi dalam memerhatikan setiap detail guna mencegah kecelakaan di Masjidil Haram.

(fzy)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini