alexametrics

Cerita Petugas Haji Bekerja 12 Jam Melawan Debu dan Terik Panas Kota Makkah

Amril Amarullah, Jurnalis · Minggu, 12 Agustus 2018 - 17:42 wib
(Arifin Sarkawi bekerja selama 12 jam dan isitirahat hanya untuk salat dan makan. Foto: Okezone/Tim MCH)

MAKKAH - Sembilan hari menjelang puncak haji Arafah, jamaah haji mulai memadati Masjidil Haram. Lebih dari 2 juta umat muslim dunia tumpah ruah di Kota Makkah.

Jamaah Indonesia sendiri yang sudah tiba mencapai 179.954 orang. Petugas pun disiagakan 24 jam untuk mampu melayani jamaah dengan baik, tidak boleh seperti jamaah yang hanya fokus ibadah.

Arifin Sarkawi, salah satu petugas tenaga musiman (temus) yang tanpa kenal lelah melayani jamaah Indonesia siang dan malam. Pekerjaan tidak mudah, dia harus memastikan jamaah yang akan menuju Masjidil Haram dari hotel tidak salah naik bus salawat.

Di halaman Hotel Jawhara Al Nader, Mekah keseharian ia bekerja. Tanpa atap, dia memantau jalanan. Hanya berteman kursi kosong dan dua bendera, satu Merah Putih dan satunya bendera Arab Saudi.

Sesekali tangan Arifin mencatat laju bus di atas kertas putihnya. Sesekali handy talkie di rompi jaringnya bunyi.

Foto: Okezone/Tim MCH

Cuaca Makkah sore itu, mencapai 45 derajat celcius. Suhu panas yang luar biasa kala itu. Topi jadi bekalnya menghalau teriknya sinar mentari Makkah. Wajah Arifin terlihat memerah legam seperti terbakar panggang. Sungguh kontras dengan warna lengannya yang sawo matang.

Sesekali dia beranjak dari bangkunya. Berteriak memecah suasana. Beradu dengan deru mesin bus sholat lima waktu (sholawat) aneka warna. "Haram! Haram! Haram!" kata Arifin.

Haram yang dia maksud ialah tujuan bus. Rute lima. Syisiah ke Masjidil Haram.

Arifin sudah hafal betul dengan lika-liku pekerjaannya. Tiga tahun sudah dia tugas jadi tenaga musiman. Ditempatkan di bagian transportasi bus sholawat. 12 jam kerja tiap harinya.

"Saya shift dari jam 12 siang hingga jam 12 malam. Istirahat kalau makan dan sholat saja," kata dia.

Foto: Okezone/Tim MCH Dakker

Jam kerja itu jadi bukti pengalaman untuk menghadapi cuaca terik. Jika suhu dirasakannya mulai mengganggu, dia akan 'bersembunyi'.

Tapi, kata dia, panas bukan halangan. "Yang jadi kendala itu kadang debu," kata dia diikuti suara klakson bus yang bersahutan.

Debu, kata dia, sangat sensitif dengan kesehatan. Meski begitu, sejauh ini kondisi tubuhnya masih terjaga.

Di sela-sela berbincang dengan media, mata Arifin terbelalak melihat sekeliling jamaah dan bus yang melaju. Tangannya pun terus mencatat ketibaan dan kepergian bus. Tujuannya agar peran sopir dalam pelayanan bus salawat dapat termonitor.

"Bus yang kurang aktif beroperasinya akan dilaporkan ke markas," kata dia.

Foto: Okezone/Tim MCH

Pencatatan juga punya manfaat lain. Catatan keberangkatan dan kedatangan dapat digunakan untuk melacak barang jemaah yang tercecer.

"Sehingga bisa mengetahui letak barang tersebut," kata dia.

Arifin bersyukur, selama lebih dari dua pekan gelaran haji, rute yang dipantaunya tanpa kendala. Tak ada kesulitan berarti.

Hanya saja, kondisi kerap tak menguntungkannya ketika usai salat Isya. Dia kerap mendapat keluhan dari jamaah soal kurangnya bus.

"Itu ada kepadatan sedikit di terminal, sehingga ada jamaah yang sebagian ngeluh kekurangan bus," ujar pria asal Bangkalan, Madura itu.

Kondisi rumit juga harus dihadapinya sendiri. Walau kadang-kadang mendapati banyak jamaah yang pingsan.

Arifin tak menampik tugasnya berat. Tapi, dia selalu punya ramuan penangkal. Namanya ikhlas, kata pria dengan dua anak itu. "Bisa melayani jamaah dengan sabar dan ikhlas, insya Allah pahalnya sama dengan mereka yang ibadah," terangnya mengakhiri pembicaraan.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini