Kisah Nanang, 21 Tahun Jadi Sopir Jamaah di Arab Saudi Demi Kuliahkan Anak

Amril Amarullah, Jurnalis · Sabtu, 11 Agustus 2018 - 10:30 wib
(Nanang yang 21 tahun menjadi sopir di Arab Saudi. (Foto Amril A/Okezone))

MADINAH - Bagi sebagian orang bekerja di Luar Negeri adalah impian. Ada yang senang lantaran tidak perlu pendidikan tinggi tapi bergaji besar, ada juga yang kapok karena tidak sesuai dengan harapan. Bahkan sekedar iseng tapi justru betah berlama-lama.

Nanang (60), merupakan satu dari ratusan pekerja Indonesia yang menggantungkan hidupnya di negeri orang. Ia rela meninggalkan keluarga belasan hingga puluhan tahun demi bisa menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi.

Selama 21 tahun bekerja di negeri orang bukanlah pilihannya. Awalnya hanya iseng diajak teman ke Arab Saudi. Ia tidak tahu bekerja sebagai apa, tahunya di luar negeri banyak pekerjaan yang bisa menghasilkan uang lebih besar dari Indonesia.

 

Waktu itu usianya masih 39 tahun, meski dengan berat hati meninggalkan keluarga di Indonesia, tapi tekadnya agar bisa menyambung hidup, tawaran sang kawan pun dilakoni. Padahal, ia tidak memiliki ijazah atau uang banyak saat itu. Hanya butuh paspor untuk bisa mengurus visa.

Ketika tiba di Arab Saudi, ia pun harus rela menungu berminggu-minggu mendapat kepastian pekerjaan. "Sampai bosan saya menunggu, lama sekali nggak ada kejelasan," kata Nanang terkenang.

Baru ketika musim haji tiba, dia diminta ikut membantu menjadi kernet bus pengangkut jamaah haji. Pekerjaannya pun mudah, hanya mengangkut barang-barang dan tas koper jamaah.

Setelah enam bulan jadi kernet, ia mendapat tawaran dipercaya menjadi sopir. Itupun harus melalui proses panjang, karena harus memiliki surat izin mengemudi (SIM), pengalaman pernah membawa mobil besar.

"Alhamdulillah, itupun karena saya bisa nyetir sejak di Indonesia, sampai sekarang dipercaya bawa bus," katanya.

 

Di usianya yang sudah menginjak 60 tahun ini, ia terlihat masih bersemangat. Bahkan wajahnya yang tampak menua tak dihiraukannya. Meski lelah harus berjibaku dengan alam yang begitu terik, baginya ini bukanlah hambatan demi mengejar cita-citanya.

"Saya hanya ingin anak-anak saya bisa sekolah tinggi, dan Alhamdulillah dua sudah lulus kuliah, tersisa satu lagi," ujar pria kelahiran Cililin, Bandung ini.

Kebahagiaan terpapar dari wajahnya yang polos itu. Sekarang dua anaknya sudah bertitel sarjana, yang pertama perawat dan satunya sarjana ekonomi. Sementara yang kecil masih duduk dibangku SMA.

Wajahnya yang tampak keriput, dengan rokok di tangan sambil menyeruput segelas kopi, ia tak sungkan menceritakan kisahnya bisa bertahan hidup selama 21 tahun di Arab Saudi.

Dengan gaji yang diterimanya sebesar 1.350 riyal atau sekira Rp5.500.000 per bulannya, ia hidup bersama 110 temennya di mes di Saudi. Semua dikerjakan bersama-sama, memasak, mencuci pakaian, hingga membeli perlengkapan dapur dan kamar tidur.

 

Bahkan ketika musim lebaran Idul Fitri tiba, Nanang selalu menyempatkan pulang ke Indonesia bersama-sama temannya.

Tapi kini Nanang sudah tidak muda lagi, Ia mengaku sudah bosan dan lelah. Ditambah kerinduan sama kampung halaman, kepingin kumpul lagi sama keluarga seakan sulit terbayarkan. "Sudah tua mas, bosan juga. Pengen kumpul lagi sama keluarga," harapnya.

Namun, dia harus menunggu hingga dua tahun lagi menghabiskan masa kontraknya dengan perusahaan bus Rawahel Al Mashaer. Selain jamaah Indonesia, dia pun dipercaya membawa jamaah haji maupun umrah dari negara Jordania, Turki, Yaman, Mesir dan Usbekistan.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini