alexametrics

Jamaah Haji yang Laksanakan Tarwiah Harus Disertai Surat Pernyataan

Antara, Jurnalis · Jum'at, 10 Agustus 2018 - 14:49 wib
(Ilustrasi jamaah haji. (Foto: Okezone))

MAKKAH – Kepala Daerah Kerja Makkah Endang Jumali mengatakan jamaah calon haji Indonesia yang melakukan amalan sunah tarwiah harus membuat surat pernyataan bertanggung jawab atas dirinya sendiri karena kegiatan tersebut tidak masuk program pemerintah.

"Pelaksana tarwiah membuat surat pernyataan bahwa segala aktivitas yang berakibat pada keselamatan dan kerugian material menjadi tanggung jawab sendiri," kata Endang saat ditemui di kantornya, Makkah, Kamis 9 Agustus 2018.

Dia mengatakan, JCH yang ingin melaksanakan tarwiah bisa menghubungi ketua kelompok terbangnya untuk membuat surat permohonan. Surat itu harus diketahui oleh kepala sektor tempat jamaah tinggal agar nanti bisa diajukan kepada kepala Daker Mekkah.

Endang mengatakan sudah mengirim surat edaran ke kepala Sektor 1-11 Daker Mekkah yang menginstruksikan agar pengumuman soal tarwiah diperluas kepada JCH Indonesia bahwa ibadah sunah itu bukan dalam tanggungan pemerintah.

Menurut dia, pemerintah tidak melarang JCH melakukan tarwiah. Hanya, pelayanan ibadah haji mulai 8 Zulhijah difokuskan untuk menggerakkan JCH menuju Padang Arafah guna melakukan rukun haji yaitu wukuf, bukan untuk tarwiah.

Jika dipaksakan menyelenggarakan tarwiah, kata dia, maka akan terjadi kerepotan bagi petugas dan JCH sendiri karena memobilisasi jamaah yang jumlahnya 200 ribu lebih dari Makkah ke Arafah bukan persoalan mudah.

Jika harus disela dengan penyelenggaraan tarwiah oleh pemerintah maka dikhawatirkan jamaah justru tidak bisa wukuf di Arafah karena terlambat. Dampaknya, kata dia, JCH Indonesia bisa tidak mengamalkan rukun haji hanya karena mengejar sunah haji.

Pada prinsipnya, lanjut dia, Pemerintah Indonesia tidak melaksanakan program tarwiah seperti menanggung transportasi, akomodasi, dan konsumsinya. Maka itu, bagi calhaj yang ingin melakukannya agar mempertimbangkan faktor kesiapan fisik dan risiko keselamatan diri.

"Ini karena masih banyak rangkaian ibadah haji yang bersifat wajib dan rukun haji yang belum dilaksanakan," kata dia.

Ilustrasi jamaah haji. (Foto: Kemenag.go.id)

Adapun rukun haji adalah amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan jika ditinggal salah satu maka tidak sah pelaksanaannya.

Sedangkan ibadah sunah haji adalah amalan yang jika dilakukan berpahala tapi jika ditinggalkan tidak berdosa. Selanjutnya, wajib haji yaitu ibadah yang diperintahkan untuk dilaksanakan dengan pahala sebagai ganjaran dan jika ditinggal berdosa.

Dalam wajib haji, amalan wajib boleh ditinggalkan, tapi harus membayar denda atau dam.

Endang mengatakan, pelaksanaan tarwiah juga harus dikoordinasikan dengan Maktab atau unit penyelenggara dari unsur Arab Saudi. Selanjutnya, Maktab harus menyampaikan permohonan itu ke unit di atasnya yaitu Muassasah.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini