Hotel Setan Bersinar 24 Jam, Jadi Saksi Bisu Kegigihan Nabi Ibrahim

Rafida Ulfa, Jurnalis · Kamis, 9 Agustus 2018 - 06:03 wib
((Ilustrasi: Okezone))

JAKARTA - Puncak pelaksanaan ibadah haji salah satunya adalah dengan melempar jumrah di Jamarat atau lebih dikenal sebagai Hotel Setan. Tempat sakral ini menjadi titik krusial saat musim haji. Uniknya, meski musim haji berlalu tetapi Hotel Setan terus benderang di kala siang hari.

Bangunan dengan kapasitas lebih dari 3 juta orang itu memang sengaja dibiarkan terang oleh Pemerintah Arab Saudi. Tujuannya ada dua, yakni menghindari kejahatan dan lokasi tersebut dijaga ketat karena sakral. Jangan harap bisa memasuki Jamarat meski musim haji terlah berlalu.

Seperti dikutip Okezone buku 'Haji dan Umrah Mabrur Itu Mudah dan Indah' karya Dr Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Jamarat (tempat melontar jumrah) adapun keutamaan melontar jumrah adalah sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut ini:

 Lempar Jumrah

1. Melempar jumrah pada hakikatnya adalah melontar syaitan.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan, yang artinya:

“Dari Ibnu AbbasRa berkata, ketika Nabi Ibrahim AS kekasih Allah SWT akan menunaikan manasik, datanglah syaitan di jumrah, lalu Nabi Ibrahim melempar syaitan dengan tujuh butir batu hingga syaitan lenyap. Kemudian syaitan datang menggodanya lagi di jumrah kedua, lalu beliau melontarnya dengan tujuh kali lontaran hingga dia lenyap lagi. Kemudian syaitan datang lagi di jumrah yang ketiga, lalu beliau melontarkan kembali dengan tujuh kali lontaran hingga hilang di bumi. Ibnu Abbas berkata, ‘Syaitan kalian lontari, dan agama bapak kalian (Ibrahim AS) kalian ikuti.” (HR Bukhari, No. 1751, Kitab Al Hajj)

 Lempar Jumrah

2. Jamarat merupakan tempat di mana Rasulullah SAW dan para sahabat cukup lama memanjatkan doa.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan, yang artinya “Dari Ibnu Umar Ra, bahwa dia melempar Al-Jumrah, Al-‘Ula dengan tujuh kerikil dengan bertakbir pada setiap kali lemparannya, kemudian dia maju hingga sampai pada sampai permukaan yang datar dia berdiri menghadap kiblat dengan agak lama, lalu berdoa dengan mengangkat kedua tangannya kemudian melempar jumrah Al Wustho lalu dia mengambil jalan sebelah kiri pada dataran yang rata lalu berdiri menghadap kiblat dengan agak lama lalu berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan tetap berdiri agak lama, kemudian dia melempar jumrah Al-Aqabah dari dasar lembah dan dia tidak berhenti di situ, lalu segera berhenti dan berkata, ‘Begitulah aku melihat Nabi AS mengerjakannya.” (HR Bukhari, No. 1751, Kitab Al Hajj, Bab idza)

(wdi)

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini