nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kakbah dan Hajar Aswad, dari Masa Nabi Ibrahim hingga Era Raja Fahd

Rani Hardjanti, Jurnalis · Sabtu 04 Agustus 2018 06:29 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 03 398 1931456 kakbah-dan-hajar-aswad-dari-masa-nabi-ibrahim-hingga-era-raja-fahd-SH29FAvBcd.jpg Seiring perkembangan zaman, Kakbah mengalami sejumlah perubahan dari masa ke masa. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Berdirinya Kakbah dan Masjidil Haram tidak lepas dari sejarah perkembangan agama Islam di Tanah Suci Makkah. Faktanya, penampilan Kakbah terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Dari yang semula bangunan berbentuk kotak di tengah gurun pasir, kini menjadi bangunan megah disertai Hajar Aswad di tengah Masjidil Haram.

Secara bahasa, Kakbah adalah Baitul Murabba’, yakni bangunan persegi empat, atau al-‘Uluwal-Murtafi’ah, bangunan yang muncul ke permukaan tanah, atau bermakna al-Ghurfah, artinya kamar-kamar, adalah bangunan yang mempunyai ruang segi empat dan pintunya yang tinggi, terletak di tengah bangunan Masjidil Haram.

Dijelaskan dari buku 'Haji dan Umrah Mabrur Itu Mudah dan Indah' karya Dr Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Kakbah merupakan bangunan tertua di dunia yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram. Dalam Al-Quran, Allah SWT menyebutkan bahwa Kakbah adalah rumah yang mula-mula didirikan sebagai tempat beribadah manusia.

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran [3]: 96).

Kakbah dibangun sejak Nabi Adam AS. Bangunan ini berkali-kali mengalami renovasi, di antaranya pada masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, di zaman jahiliyah oleh suku Quraisy, pada masa Abdullah bin Zubair bin Awam (65 H), Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-tsaqafi (74 H), Sultan Murad Khanal-Utsmani (1040 H), dan di masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz (1417 H).

(Alat pemintal Kiswah di Museum Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Dok: MCH)

Di Masa Nabi Ibrahim

Pembangunan Kakbah pada zaman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggalkan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a), ‘Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al –Baqarah[2]: 127).

Kemudian Ibrahim berkata, ‘Wahai Ismail, sesungguhnya Allah menyuruhku dengan suat perkara. Ismail berkata, ‘Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu (‘azzawajjall)’. Ibrahim berkata, ‘Maukah kau membantuku?’. Ismail menjawab, ‘Aku akan membantumu’. Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun di sini suatu rumah (Bait) – sembari memberi isyarat kepada suatu gundukan tanah yang tinggi melebihi sekitarnya. Ibn Abbas berkata, ‘Maka di sanalah mereka berdua meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah. Kemudian mulailah Ismail mendatangkan batu-batu, sedangkan Ibrahim membangunnya sehingga ketika bangunan mulai tinggi, ia datang dengan batu ini (Maqam Ibrahim), dan meletakkannya untuk Ibrahim. Lalu Ibrahim pun berdiri di atasnya dan membangun (Kakbah ), sedangkan Ismail menyodorkannya batu-batu dan mereka berdua berkata, ‘(Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengarkan lagi Maha Mengetahui)’. Ibn Abbas berkata, ‘Jadilah mereka berdua membangun (Kakbah ) hingga di sekeliling bait, dengan mengucap, ‘(Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR Bukhari, No. 3365).

Kakbah yang dibangun kembali kedua nabi dan hamba Allah SWT ini berbahan batu, tingginya 9 hasta (4,5 meter), panjangnya dari arah timur 32 hasta (16 meter), dari arah barat 31 hasta (15,5 meter), dari arah utara 20 hasta (10 meter), dan dari arah selatan 22 hasta (11 meter). Nabi Ibrahim AS tidak membuat atap Kakbah, membuat pintu masuk yang sejajar dengan tanah tapi tidak membuat daun pintunya.

(Ornamen Kakbah era 1420 H di Museum Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Dok: MCH)

Di Zaman Quraisy

Enam tahun sebelum Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT yang menandai diutusnya sebagai nabi dan rasul, terjadilah banjir yang sangat besar di kota Makkah. Akibatnya, bangunan Kakbah mengalami kerusakan.

Para pemuka Quraisy mengumumkan kepada penduduk kota Makkah untuk merenovasi Kakbah . Mereka mengurangi bangunan dari arah Hijir Ismail hingga 6 hasta (3 meter lebih) dan menambah tinggi bangunan 19 hasta (9 meter). Bangunan Kakbah yang sebelumnya tidak beratap menjadi beratap, membuat pancuran air dari bahan kayu, menutup pintu arah barat, serta meninggikan pintu timur dari dasar Kakbah. .

Ketika Hajar Aswad akan diletakkan kembali di tempat semula, para pemuka Quraisy berselisih tentang siapa yang layak melakukannya. Bagi mereka, orang yang meletakkan Hajar Aswad adalah orang yang mendapat kemuliaan. Setelah cukup lama berselisih perihal siapa yang pantas meletakkan Hajar Aswad, akhirnya diputuskan orang yang pertama masuk Masjidil Haram, dialah yang berhak meletakkannya. Ternyata Muhammad SAW orangnya.

Nabi Muhammad SAW berkata kepada orang-orang, “Berikan padaku sebuah kain”. Setelah kain diterimanya, beliau menghamparkannya lalu mengambil Hajar Aswad dan menaruhnya di tengah kain itu dengan tangannya.

Lelaki yang sebelumnya telah dijuluki “Al-Amin” (Orang yang terpercaya) oleh kaum itu mengatakan, “Hendaklah setiap kabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”.

Mereka melakukannya. Tatkala telah sampai di tempatnya, Nabi Muhammad SAW menaruh Hajar Aswad itu dengan tangannya lalu pembangun Kakbah diselesaikan. Berkat dicerdikan beliau, perselisihan yang sebelumnya sempat memanas dan berpotensi memicu pertumpahan darah itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Semua pemuka kabilah Quraisy merasa puas.

 (Kakbah saat musim Haji. Dok: MCH)

Di Masa Abdullah bin Zubair bin Awwam

Pada tahun 64 Hijriah, terjadi ketegangan yang berujung penyerangan oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah dari Syam di bawah panglima perang Husain bin Namir terhadap Abdullah bin ZubairRa yang berada di Makkah. Mereka menyerang Makkah hingga berakibat rusaknya tembok bangunan Kakbah .

Setelah 27 hari terdengar wafatnya Yazid, akhirnya mereka kembali ke Syam.

Kemudian Abdullah bin ZubairRa memutuskan untuk merenovasi Kakbah. Ibnu Zubair ini pernah mendengarkan hadis dari bibirnya, yaitu Aisyah Ra, bahwa Nabi SAW berkata padanya:

Bukankah kau melihat kaummu ketika membangun Kakbah, mereka memendekkannya dari formasi Ibrahim AS?” Maka aku (Aisyah Ra) berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, apakah kita tidak saja kembalikan pada pondasi-pondasi Ibrahim?’ Nabi SAW berkata, ‘Seandainya kaum mu tidak baru saja kufur, niscaya Aku lakukan." (HR Bukhari, No. 1583).

Seandainya kaummu tidak baru saja dalam masa jahiliyah, pasti akan aku infakkan harta simpanan Kakbah dan akan aku jadikan pintunya di tanah, dan aku masukkan Hijir ke dalam Kakbah,” (HR Bukhari, No. 1586)

(Gembok dan kunci Kakbah di Museum Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Dok: MCH)

Selanjutnya, Abdullah bin Zubair Ra mengembalikan pondasi Kakbah sebagaimana dahulu dibangun Nabi Ibrahim AS. Dia memasukkan kembali ke Kakbah apa yang dikurangi oleh orang Quraisy saat renovasi. Abdullah bin Zubair Ra menambahkan enam hasta lebih sejengkal, dan menjadikan dua pintu sejajar dengan tanah. Beliau menambahkan di arah barat dan timur, serta menambah ketinggiannya 27 hasta (13,5 meter).

Di Zaman Al-Hajjaj bin Yusuf

Sesuai renovasi Kakbah oleh Abdullah bin ZubairRa, tidak lama kemudian, Abdul Malik bin Marwan dari Syam mengutus Al-Hajaj beserta pasukannya untuk menguasai kota Makkah. Ketika Makkah dikuasai dan Ibnu Zubair wafat dalam peperangan tersebut, Al-Hajaj mengirim surat kepada Abdul Malik bin Marwah, bahwa Ibnu Zubair telah merenovasi Kakbah dan ia ingin mengembalikan ke posisi semula.

Setelah diizinkan Abdul Malik, Kakbah direnovasi kembali dengan mengeluarkan enam hasta, serta menutup pintu yang berada di arah barat, dan meninggikan pintu Kakbah arah timur, lalu membongkar tembok bagian utara.

Pada suatu ketika, Abdul Malik bin Marwan mengetahui alasan sebenarnya Ibn Zubair merenovasi Kakbah ; mengembalikan ukuran bangunan Kakbah yang telah mengalami perubahan oleh orang-orang Quraisy zaman dulu. Abdul-Malik menyesal karena dirinya mengizinkan Al-Hajaj merenovasi Kakbah yang sudah dilakukan Abdullah bin Zubair sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Muslim:

Ketika Abdul Malik bin Marwan sedang thawaf di Baitullah, tiba-tiba ia berkata, ‘Celakalah Ibn Zubair ketika ia berbohong atas Ummul-Mukminin, karena ia (Ibn Zubair) berkata, ‘Aku mendengar Ummul-Mukminin mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Aisyah, seandainya kaummu bukan baru dari masa kekufuran, tentu akan aku robohkan Kakbah sehingga aku tambahkan Hijir di dalamnya, karena sesungguhnya kaummu tidak mampu dalam membangun.”

Al-Harist bin Abdullah bin AbiRabi’ah berkata, "Jangan berkata demikian wahai Amiirul-Mukminin, karena aku mendengar Ummul-Mukminin bercerita demikian”. Abdul Malik berkata, ‘Kalau aku mendengarnya sebelum aku merobohkannya tentu aku akan membiarkannya sesuai atas apa yang dibangun Ibn Zubair," (HR Muslim, No. 3312)

(Tangga menunju Kakbah pada zaman dahulu. di Museum Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Dok: MCH)

Pada Masa Sultan Murad KhanAl-Utsmani

Pada tahun 1040 H atau 1630 M, terjadi banjir yang mengakibatkan rusaknya bangunan Kakbah . Atas perintah Sultan Murad KhanAl-Utsmani, maka Kakbah pun segera direnovasi seperti semula.

Di Era Raja Fahd bin Abdul Aziz

Pada tahun 1417 H, Raja Fahd memerintahkan untuk merenovasi Kakbah secara total mengingat bangunannya sudah termakan cuaca dan iklim. Renovasi meliputi panguatan pondasi bangunan Kakbah, pembuatan kran dan drainase, saluran air, dinding luar, menambal lubang-lubang serta mengganti atapnya. Dia menunjuk perusahaan Bin Laden yang bertugas merenovasi Kakbah .

Hasil renovasi: tinggi Kakbah 14 meter, panjang dari arah multazam, 12,84 meter, panjang dari arah Hijir Ismail 11,28 meter, antara Rukun Yamani dan Hijir Ismail 12,11 meter, antara Rukun Yunani dan Hajar Aswad 11,52 meter.

Kakbah Dilapisi Kiswah Terbaru, Begini Tampilannya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini