Bolehkah Konsumsi Pil Penunda Haid Sebelum ke Tanah Suci?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at, 20 Juli 2018 - 07:13 wib
(Pelaksanaan Haji (Foto: Okezone))

JIKA Anda kaget mendengar judul tersebut, Anda akan memutar otak sekarang dan mengetahui faktanya. Menurut beberapa sumber, penggunaan pil penunda haid ini banyak dilakukan jamaah perempuan. Mereka melakukan itu demi kelancaran ibadah manasik haji. Ya, biar tidak ada step yang tertinggal. Biar afdol.

Tapi, polemik berlanjut, pertanyaan, "memang boleh?" pun kencang terdengar. Bagaimana kemudian ahli medis menilai isu ini?

Baca Juga:

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD secara khusus pada Okezone menjelaskan bahwa upaya semacam ini sudah diketahui semua jamaah perempuan. Mengonsumsi pil penunda haid ini sudah seperti program wajib sebelum pergi ke tanah suci.

"Pemeriksaan sebelum penggunaan pil tentu harus dilakukan oleh jamaah. Disarakan sih memang sebulan sebelum keberangkatan sudah konsultasi dengan dokter Obgin (Obstetri dan Ginekologi, Red) sendiri jika punya. Kalau pu tidak, biasanya dokter setiap kloter akan membantu proses penggunaan pil penunda haid ini," papar Dr Ari saat Okezone menghubunginya Jumat (20/7/2018).

Dr Ari menambahkan, jika memang sampai saat ini di antara jamaah haji perempuan ada yang belum melakukan tindakan penundaan haid ini, maka Anda bisa menghubungi dokter kloter yang menangani Anda. "Karena takutnya tidak diinfokan, jadi bisa kembali diingatkan," sambungnya.

Dr Ari melanjutkan, penundaan haid ini tentu dimaksudkan agar jamaah haji perempuan dapat mengantisipasi haid selama proses ibadah haji dilakukan. "Konsumsi pil penunda haid ini tidak hanya untuk jamaah haji, mereka yang umrah pun disarankan untuk melakukannya juga. Dengan harapan ibadah di tanah suci maksimal," tambahnya.

Lalu, bagaimana Islam menilai kasus ini?

Beberapa sumber menjelaskan bahwa menelan pil atau menggunakan obat-obatan untuk menunda atau mencegah mensturasi ini baru diangkat oleh ahli fikih kekinian.

Guru Besar Ushul Fiqh di Fakultas Syariah dan Hukum di Thantha Mesir Prof Dr Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi menjelaskan bahwa haid merupakan fithrah perempuan. Dia menegaskan bahwa Islam tidak melarang Muslimah menelan pil untuk mencegah haid.

 Hal ini boleh dilakukan agar para perempuan bisa mengikuti ibadah puasa Ramadhan dengan lancar. Ini juga sejalan dengan tidak adanya dalil khusus di Al-Quran, hadits, Ijmak, mau pun qiyas yang melarang menelan pil tersebut.

Lebih jelasnya, Ibrahim Al-Hafnawi menyebutkan masalah ini dalam buku kumpulan fatwanya sebagai berikut.

وتناول هذه الحبوب لأجل الصوم ليس ممنوعا شرعا، لأنه لا يوجد دليل على المنع، اللهم إلا إذا ثبت أنه يلحق الضرر بالمرأة لقوله صلى الله عليه وسلم لا ضرر ولا ضرار. ففي هذه الحالة يحرم تناولها. لذلك فمن الأفضل عند إرادة تناولها مشاورة طبيب مختص، إلا إذا كانت معتادة عليها، ولا يلحقها ضرر بسببها. والله أعلم.

Artinya,

“Mengonsumsi pil (untuk menunda menstruasi) agar dapat memenuhi syarat puasa tidak dilarang menurut hukum syara’ (agama) karena memang tidak terdapat dalil yang melarang. Lain soal kalau konsumsi pil itu membahayakan kesehatannya, maka konsumsi itu jelas dilarang berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘Tidak boleh ada mudharat dan memudharatkan’. Dalam kondisi mudharat seperti ini, menelan pil itu menjadi haram. Karena itu ada baiknya kalau ingin mengonsumsi pil (penunda menstruasi), perempuan itu berkonsultasi dengan ahli medis spesialis. Lain ceritanya kalau konsumsi pil itu sudah menjadi kebiasaannya saat (Ramadhan tiba) dan tidak membahayakan kesehatannya,” (Lihat Prof Dr Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi, Fatawa Syar’iyyah Mua’shirah, Darul Hadits, Kairo, Halaman 280).

Dari pernyataan itu, bisa ditarik kesimpulan juga bahwa perempuan yang ingin runtutan ibadah hajinya tidak terganggu karena haid boleh mengonsumsi pil penunda haid. Hal ini dimaksudkan agar para perempuan dapat secara maksimal menggunakan waktu haji yang ditentukan.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini