Kisah Muhammad Bakri, Penghulu Teladan yang Diganjar Hadiah Haji

Amril Amarullah, Jurnalis · Selasa, 29 Mei 2018 - 10:41 wib
(Penghulu Muhammad Bakri mendapat penghargaan menjadi petugas haji. (Foto: Amril Amarullah/Okezone))

JAKARTA – Ada yang menarik ketika apel pagi di pelatihan petugas haji Arab Saudi 2018 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (29/5/2018). Saat itu Direktur Bina Haji Ditjen PHU Khoirizi H Dasir memperkenalkan Muhammad Bakri sebagai penghulu teladan yang terpilih sebagai petugas haji tahun ini.

Tentu saja ini bisa menjadi inspirasi keteladan bagi yang lainnya. Lalu apa saja kebaikan yang dilakukan Bakri hingga dipercaya menjadi menjadi petugas haji.

Menurut Khoirizi, nama Muhammad Bakri adalah penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi salah satu bukti.

(Baca: Cerita Petugas Haji Menghadapi Jemaah Indonesia dengan Berbagai Tingkah Laku Unik)

Penghulu Muhammad Bakri dapat penghargaan naik haji. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Kendati berjarak ratusan kilometer dari pusat Ibu Kota, tak menyurutkan sedikit pun niat dan langkah Bakri melaporkan gratifikasi yang ia terima ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kadang memang masyarakat masih memaksa agar saya menerima amplop. Saya tolak berkali-kali, tetap dipaksa,” kata Bakri saat ditemui di sela kegiatan Pelatihan Petugas Haji Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Selasa (29/5/2018) pagi.

Langkah yang kemudian ia tempuh, melaporkannya ke KPK. “Jika dinyatakan gtatifikasi, kita kembalikan ke kas negara melalui transfer ke rekening yang diberikan KPK,” urai Bakri yang menjadi penghulu sejak 2012 itu.

Kenapa tertarik melaporkan ke KPK? “Saya ingin kerja sesuai aturan yang jelas menyatakan bahwa gratifikasi tidak boleh diterima,” ujar lelaki kelahiran 13 Juni 1982 itu.

Aturan yang dimaksud Bakri adalah Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) atas Biaya Nikah dan Rujuk di Luar KUA Kecamatan yang ditandatangani Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 13 Agustus 2014.

Peraturan tersebut menyebutkan bahwa menikah di KUA gratis. Namun, pencatatan nikah di luar KUA akan dikenai biaya sebesar Rp600.000. Biaya tersebut sudah termasuk transportasi dan administrasi yang dikeluarkan penghulu untuk menikahkan calon pengantin.

(Baca: Kemenag Akan Obati Kerinduan Jamaah dengan Menyajikan Masakan Nusantara Selama di Tanah Suci)

Sebagai reward (penghargaan) atas bukti integritas yang ditunjukkan, Kementerian Agama memberikan penghargaan kepada Bakri untuk menjadi petugas haji Arab Saudi tahun ini.

“Penghulu Bakri kita jadikan contoh untuk memberikan motivasi kepada pegawai lainnya,” jelas Direktur Bina Haji Ditjen PHU Khoirizi H Dasir.

“Bapak Menteri sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Bakri dan Kemenag memberikan reward kepadanya ikuti palatihan petugas haji Arab Saudi tahun 1439H/2018M,” imbuh Khoirizi.

Inilah sekelumit kisah keteladanan yang ditunjukkan Bakri. Bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Atas kejujuran dan integritas yang ia tunjukkan, maka reward menjadi petugas melayani para tamu Allah ia dapatkan.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini