nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Balik Hotel Jamaah, Panitia Haji Harus Berpisah 100 Hari dengan Keluarga

Rani Hardjanti, Jurnalis · Selasa 26 September 2017 07:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 26 398 1783012 di-balik-hotel-jamaah-panitia-haji-harus-berpisah-100-hari-dengan-keluarga-f1EC7VZBZH.jpg (Foto: Rani Hardjanti/Okezone)

Penyiapan

Menurut Nasrullah, tim akomodasi bertugas berdasarkan aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) No 9 tahun 2016 tentang Penyediaan Barang/Jasa dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji di Arab Saudi. “Ada tiga tahapan yang harus kami lakukan, yaitu penyiapan, negosiasi, baru kontrak. Dari ketiga itu, dua tahap pertama mempunyai tantangannya sendiri-sendiri,” tutur Nasrullah.

Pada tahap penyiapan, tim akomodasi harus mencari hotel yang akan disewa. Tidak sembarang hotel yang harus disewa. Tim harus memastikan semuanya sesuai dengan kriteria dan kualifikasi, serta prosesnya harus sesuai aturan yang ada.

“Tantangan pertama yang harus dihadapi tim akomodasi adalah terkait kualifikasi,” kata Ketua Tim Akomodasi yang juga Kepala Daker Makkah Nasrullah Jasam saat ditemui di Kantor Daker Makkah, kepada Media Center Haji.

Kepada MCH Daker Makkah, Nasrullah mau berbagi kisah kerja keras timnya berburu hotel yang akan ditempati jamaah saat operasional haji.

Ada sejumlah kualifikasi hotel jamaah haji Indonesia, yaitu pertama, mudah diakses. “Kadang ada hotel bagus, tapi aksesnya sulit. Ini tidak bisa disewa karena kita juga harus bersinergi dengan layanan transportasi dan katering. Karenanya, akses atau letak hotel menjadi pertimbangan utama,” ujar Nasrullah.

Termasuk kemudahan akses adalah hotel tidak terletak di kawasan yang menanjak, karena itu akan menyulitkan jamaah, khususnya lanjut usia (lansia). Nasrullah mengaku tahun ini ada satu yang agak menanjak (Hotel Sawi Mahbas), tapi tetap disewa karena masih bisa dilalui dan pihak pemilik hotel mau menyiapkan 10 mobil golf sebagai moda pengantar ke halte bus shalawat.

Kedua, fisik hotel bagus, termasuk fasilitas di dalamnya. Nasrullah mencontohkan, hotel harus memiliki lobi yang luas, minimal 50 m2. Lobi luas diperlukan untuk memastikan jamaah nyaman saat baru tiba di hotel, meski banyak koper yang harus diangkut ke dalam, minimal 1 kloter.

Hotel juga harus memiliki musala yang cukup luas. Sebab, ada fase di mana kegiatan jamaah terkonsentrasi di hotel, utamanya jelang puncak haji. Jamaah juga membutuhkan tempat untuk berkumpul, baik untuk koordinasi maupun penyuluhan. “Kita juga minta ada tempat untuk makan, untuk pembagian katering,” ucapnya.

Ketiga, membentuk rumpun hotel. Nasrullah mengatakan, tim menghindari menyewa hotel yang letaknya menyendiri, apalagi kapasitasnya tanggung. Harus ada beberapa hotel yang berdekatan sehingga membentuk satu rumpun. Ini diperlukan untuk memudahkan layanan katering dan transportasi. Untuk itu, penyediaan hotel tahun ini dibatasi pada enam wilayah saja, yaitu Syisyah, Mahbas jin, Jarwal, Misfalah, Raudhah, dan Aziziyah.

“Halte transportasi belum bisa ditentukan kecuali rumah sudah ada sebab mengikuti letak rumah. Karena itu, rumah harus memperhatikan layanan transportasi dan katering,” katanya.

“Jadi tidak sesederhana yang dibayangkan,” lanjutnya.

Keempat, kapasitas hotel minimal dapat menampung 1 kloter. “Jadi tidak ada hotel yang di bawah 1 kloter atau hotel kecil. Hal ini untuk meminimalkan terjadinya pecah kloter selama jamaah di Makkah,” tambahnya.

Kelima, dokumen lengkap. Wakil Ketua Bidang Penyiapan Fitsa Baharuddin mengatakan, PMA 9/2016 membolehkan tim akomodasi untuk melakukan proses penunjukan langsung. Mekanisme ini, menurutnya, lebih efektif jika dibandingkan sistem pendaftaran. “Tahun 2014 itu kita masih menggunakan mekanisme pendaftaran. Yang daftar itu sampai 400 berkas. Yang harus di kasfiyah itu hampir 300 hotel. Tidak efektif sama sekali,” terang Fitsa.

Selain lebih efektif, mekanisme penunjukan langsung juga menghindarkan tim akomodasi dari berhubungan dengan calo. Sebab, setelah memeriksa hotel, tim bisa langsung menghubungi pemiliknya untuk menyerahkan dokumen. Jika berminat disewa Indonesia, mereka akan menyerahkan dokumen.

“Dokumen itulah yang kemudian diperiksa secara komprehensif. Kalau oke kita lanjutkan, kalau tidak ya kita tolak,” ujarnya.

Namun, tetap saja ada orang yang berusaha mencari celah. Terkadang, berkas sebuah hotel dibawa oleh lebih dari empat orang. Setiap dari mereka mengklaim sebagai pemegang kuasa. Maklum, anggaran pengadaan akomodasi lebih Rp3 triliun sehingga banyak orang yang tergiur untuk menjadi calo.

Terkait hal itu, tim akomodasi harus memastikan lebih dahulu siapa pemegang kuasa. Salah satu caranya adalah dengan memeriksa dokumen. “Biasanya dari tiga atau empat yang mengklaim, hanya satu yang bisa menunjukkan surat kuasa dari pemilik hotel,” tuturnya.

Gambaran ini, kata Nasrullah, menunjukkan bahwa mencari hotel di Makkah untuk musim haji tidaklah mudah. Terlebih jumlah jamaah haji Indonesia sangat banyak, mencapai 204 ribu orang. “Bukan pekerjaan mudah di Makkah mencari hotel untuk 204 ribu jamaah. Apalagi kita harus mencari yang sesuai dengan kualifikasi tersebut. Di sini tim betul-betul capek secara fisik dan pikiran,” akunya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini