Menikmati Keindahan Bukit Kasih Sayang dengan Cahaya Temaram di Kala Senja
Rani Hardjanti, Jurnalis · Minggu, 24 September 2017 - 16:06 wib
(Keindahan Jabal Rahmah di sore hari (Foto: Rani/Okezone))

MAKKAH - Angin berhembus lembut menerpa kulit peziarah yang berada di puncak Jabal Rahmah sore itu. Jabal yang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Kasih Sayang tersebut terasa syahdu dan tenang kala disinari cahaya keemasan matahari sore yang akan kembali ke peraduannya.

Pengamatan Okezone di puncak Jabal Rahmah, para peziaran seakan mendapat 'hadiah' pemandangan indah setelah berhasil mendaki ratusan anak tangga. Dari puncak gunung, tampak Padang Arafah menghampar yang telah kosong pasca-ditinggal jamaah haji pada 31 Agustus 2017 silam. Juga tampak pemandangan gunung-gunung batu. Pemandangan yang paling memukau dan banyak mengundang decak kagum adalah fenomena matahari terbenam.

Banyak jamaah yang menikmati keniindahan pada sore hari. Tidak hanya jamaah Indonesia, namun juga ada yang dari Mesir, India, dan Pakistan. Di puncak Jabal Rahmah, mereka ada yang melakukan Salat Ashar, ada yang asik berselfie ria dengan pasangan atau keluarga dan juga anak mereka.

Salah satu yang menikmati sore itu adalah Akfi Kamilathu Sholihah, yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Disinari cahaya keemasan sore hari, dia tampak menikmati dengan bercengkrama dengan teman-temannya.

Kepada Okezone, Akfi mengaku sangat terharu dan tak henti-hentinya mengucapkan 'subhanallah'. "Jabal Rahmah tempat yang indah dan adem banget. Walaupun udaranya panas loh," ujarnya.

Sementara itu, Konsultan Bimbingan Ibadah Haji Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) daerah kerja Makkah Prof Aswadi menjelaskan, Padang Arafah berkaitan dengan Nabi Adam dan Siti Hawa kembali berjumpa, yang membawa berkah kepada seluruh umat manusia.

Menurutnya, manusia selayaknya bersyukur atas upaya Nabi Adam dengan kesadarannya memohon kepada Allah SWT mengaku dirinya melakukan kedzoliman terhadap dirinya sendiri.

"Nabi dengan doa, Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi. Karena diberikan ampunan maka dengan ampunan itu manusia bisa mengabdi dengan kesungguhan di hadapan Allah SWT," ujarnya.

Guru Besar Universitas Sunan Ampel ini menjelaskan puncak kesadaran siapapun yang melakukan pelanggaran itu adalah atas kehendak nafusnya bukan karena Allah SWT. Oleh sebab itu manusia harus berupaya untuk kembali kepada kepada Allah SWT untuk mengakui berbagai kesalahan yang telah dilakukan. "Itu yang harus ditanamkan seluruh manusia," tutupnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming