Setelah Malaysia, Giliran Pakistan dan Bangladesh Belajar Pengelolaan Haji Indonesia
Rani Hardjanti, Jurnalis · Sabtu, 23 September 2017 - 13:21 wib
(Ilustrasi (Dok.Okezone))

MAKKAH - Setelah sebelumnya Tim Tabung Haji Malaysia, giliran Misi Haji Pakistan dan Banglades yang belajar tentang pengelolaan jamaah haji Indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang kuotanya hanya 30 ribuan, kedua negara ini masuk dalam 10 besar negara terbesar pengirim jamaah haji.

Pakistan menempati urutan kedua setelah Indonesia dengan 179.000 kuota haji, dengan 100 ribuan di antaranya adalah haji Reguler.

Bangladesh menempati urutan keempat dengan 129.000 kuota haji. Tempat ketiga milik India dengan 170 ribu kuota haji.

Delegasi kedua negara ini diterima oleh Direktur Layanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis dan Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyathi Bashori.

Sri Ilham menyambut baik kedatangan Misi Haji Pakistan dan Banglades. Menurutnya, pertemuan antar misi haji penting agar bisa saling memahami kelebihan dan kekurangan layanan yang diberikan kepada jamaah negara masing-masing.

Hal sama disampaikan Dumyathi Basori. Pertemuan antar misi haji perlu dilakukan untuk perbaikan layanan ke depan.

Kepada Misi Haji Pakistan dan Banglades, lanjut Nasrullah, Sri Ilham berbagi pengalaman tentang manajemen pengelolaan haji Indonesia.

Menurutnya, sebagai negara dengan kuota jamaah haji terbanyak, Indonesia dihadapkan pada tantangan penyediaan layanan, mulai dari akomodasi, transportasi, maupun katering.

Untuk itu, proses persiapan penyelenggaraan haji dilakukan sejak awal. “Penutupan operasional haji tahun ini, sekaligus menandai dimulainya persiapan penyelenggaraan haji tahun depan,” tutur Sri Ilham.

Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus berusaha memberikan layanan terbaik bagi jamaah. Karenanya, baik akomodasi, transportasi, maupun katering diupayakan dapat disediakan dalam standard terbaik.

Untuk memastikan hal ini, Kementerian Agama sudah memiliki Peraturan Menteri Agama tentang pengadaan layanan haji di Arab Saudi.

“Untuk hotel misalnya, kami memiliki kriteria yang harus dipenuhi. Salah satunya terkait dengan spek dan kapasitas. Alhamdulillah, meski jumlah jamaah kami banyak, namun kami bisa menyiapkan 155 hotel dengan kapasitas besar dan setara bintang tiga di Makkah,” tuturnya.

“Jarak terjauh hotel kami berkisar 4,5 km dari Masjidil Haram. Hotel dengan jarak di atas 1,5 km kami siapkan sarana transportasi bus shalawat untuk memudahkan jamaah beribadah,” sambungnya.

Terkait layanan transportasi, Sri Ilham menjelaskan bahwa semuanya sudah mengalami peningkatan kualitas atau upgrading. Bus antar kota perhajian yang digunakan jamaah haji rata-rata produksi tahun 2015 dan 2016.

“Ini sengaja dipilih untuk memberikan kenyamana kepada jamaah. Layanan katering juga disiapkan semaksimal mungkin agar bercitarasa nusantara,” sambungnya.

Sri Ilham juga berbagai tentang manajemen petugas layanan haji yang dibuat dalam pola daerah kerja dan sektor.

Untuk memudahkan layanan kepada jamaah, di setiap sektor perumahan terdapa petugas haji yang siap 24 jam.

Kepada delegasi Pakistan dan Banglades, Sri Ilham juga menyampaikan bahwa meski jumlahnya banyak, masa tinggal jamaah haji Indonesia di Arab Saudi lebih pendek dibanding negara lainnya.

Masa tinggal jamaah Indonesia berkisar 40 hari. Ini tidak lepas dari manajemen pemberangkatan dan pemulangan jamaah yang disiapkan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming