Di Tanah Suci, Indonesia dan Malaysia Kompak Keluhkan Tenda Mina ke Muasassah Arab Saudi
Rani Hardjanti, Jurnalis · Jum'at, 22 September 2017 - 18:31 wib
(Sejumlah panitia haji saat menggelar rapat (foto: Rani/Okezone))

MAKKAH - Panitia Haji Malaysia tahun ini kembali belajar dari Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) daerah kerja Makkah. Dalam pertemuan ini diketahui kalau Malaysia juga mempunyai keluhan yang sama dengan Indonesia tentang layanan muassasah dan maktab saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Keluhan itu terkait dengan layanan katering, tenda, dan proses keberangkatan jemaah dari hotel menuju Masyair.

Nasrullah menambahkan, Tim Tabung Haji Malaysia juga berbagi pengalaman dengan Indonesia, terutama terkait manasik haji. Menurutnya, mereka mengadakan 17 kali pertemuan untuk manasik dasar, dan 2 hari manasik intensif (praktik). Selain itu, ada juga manasik yang khusus untuk menggambarkan suasana Armina, misalnya dengan praktik tinggal di tenda berdesak-desakaan.

Selain soal organisasi jamaah, Sri llham juga menjelaskan beragam layanan yang diperoleh jamaah haji Indonesia, mulai dari akomodasi, transportasi, dan katering.

Akomodasi jamaah haji Malaysia memang berada di ring satu dengan jarak terjauh 900 meter. Ini dimungkinkan karena jumlah jamaah mereka hanya 30.000 atau setara 1,5 sektor jamaah Indonesia. Indonesia sendiri menempatkan lebih dari 20.000 jamaahnya di Jarwal dengan jarak 900 meter dari Masjidil Haram.

“Meski sebagian besar jarak hotel jemaah haji Indonesia di atas 1,5 km, jamaah yang tinggal di situ mendapatkan layanan transportasi bus Salawat,” kata Nasrullah.

Dalam pertemuan ini diketahui kalau Malaysia juga mempunyai keluhan yang sama dengan Indonesia tentang layanan muassasah dan maktab saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Keluhan itu terkait dengan layanan katering, tenda, dan proses keberangkatan jemaah dari hotel menuju Masyair.

Nasrullah menambahkan, Tim Tabung Haji Malaysia juga berbagi pengalaman dengan Indonesia, terutama terkait manasik haji. Menurutnya, mereka mengadakan 17 kali pertemuan untuk manasik dasar, dan 2 hari manasik intensif (praktik). Selain itu, ada juga manasik yang khusus untuk menggambarkan suasana Armina, misalnya dengan praktik tinggal ditenda berdesak-desakaan.

“Setelah manasik, mereka mengadakan ujian untuk pemahaman jamaah terhadap materi yang disampaikan. Jamaah yang dinilai belum lulus akan diberi manasik lagi,” tandasnya.

Usai pertemuan, Tim Tabung Haji sempat meninjau suasana kantor layanan Daker Makkah. Mereka juga melihat dan berdiskusi tentang display informasi yang tersaji di kantor daker Makkah.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming