nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jadi 'Gelandangan' 21 Jam, Cerita Romantis Jamaah Pasutri Lansia Ini Patut Diteladani

Rani Hardjanti, Jurnalis · Sabtu 02 September 2017 21:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 02 393 1768178 jadi-gelandangan-21-jam-cerita-romantis-jamaah-pasutri-lansia-ini-patut-diteladani-Qb9U4VxZhd.jpg (Foto: Rani Hardjanti/Okezone)

MINA – Wajah Burhan Ismail dan istrinya, Nurnidah, tampak kelelahan. Warna baju ihramnya yang dikenakan untuk puncak haji pun tak lagi putih.

Burhan dan istrinya hanya terdiam di trotoar dekat persimpangan salah satu jalan Mina. Mereka terpisah dari rombongan, sejak Jumat (1/9/2017) subuh sekira jam 04.47 Waktu Arab Saudi (WAS) hingga Sabtu (2/9/2017) sekira pukul 01.55 dini hari WAS.

Mereka berdua adalah jamaah asal Embarkasi Balikpapan, Kalimantan Timur. Rambut Burhan tampak berwarna perak dengan raut wajah yang lelah. Begitu juga dengan Nurnidah.

"Kami sudah seperti gelandangan," ujar kakek dengan 1 cucu ini.

(Baca Juga: Puncak Haji 2017, Ini Pesan Menag Lukman ke Seluruh Jamaah Indonesia)

Kepada Okezone dia bercerita, awalnya setelah turun dari bus Musdalifah menuju Mina, dia bersama istri beserta rombongan berjalan seperti biasa. Namun perjalanan yang cukup panjang menuju tempat pelemparan jumrah Aqobah, membuat istrinya kelelahan.

Burhan dengan sabar mendampingi istrinya yang kelelahan dan meminta rombongan istirahat sejenak. Diakui Burhan, istrinya memang mudah lelah jika berjalan lama. Apalagi cuaca di Mina cukup terik sekitar 47 derajat.

(Baca Juga: Beginilah Mina, Titik Krusial Puncak Kelelahan Para Jamaah Haji)

Tetapi, Burhan tidak memaksakan diri juga ketika rombongan berlalu. Dia dan Nurdinah mulai tertinggal 200 meter di belakang. Bapak 4 anak ini tetap sabar memberi kesempatan istrinya istirahat sejenak. Hingga akhirnya rombongan menjauh dan tak terlihat lagi di pelupuk matanya.

"Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena istri saya memang napasnya pendek," ujar Burhan pasrah.

Perjuangan pun dimulai. Dia berusaha menunaikan wajib haji melempar jumrah aqobah secara mandiri. Batu yang dikumpulkan dari Musdalifah pun dikeluarkan dan dilemparkan ke dinding aqobah.

Seharusnya, dia langsung beristirahat menuju maktab 7. Namun dia tidak tahu di mana lokasi tenda tersebut. Apalagi dia belum tahu wilayah Mina yang kini tengah penuh disesaki 3 juta jamaah dunia.

Secara perlahan, dia berusaha pulang ke tendanya untuk beristirahat, dengan mencari jalan di lorong-lorong gunung batu Mina. Mengimbangi langkah sang istri yang pelan, dia tidak tahu arah ke mana harus berjalan di tengah belantara jamaah. Hingga akhirnya dia berjalan jauh keluar dari Mina sekira 2 kilometer.

Saat ditemui Okezone, Burhan dan Nurdiah tengah duduk di jalan beserta jamaah Afrika. Sudah 21 jam mereka bertahan di jalan tanpa peneduh.

"Tadi banyak yang memberi saya makanan dan buah. Air minum juga banyak. Jadi saya tidak kekurangan apapun," ujarnya.

Setelah akan diantar ke tempatnya bermalam, pasutri lansia ini sempat beberapa kali berhenti. Saat istirahat, Burhan tampak memijat kaki Nurdiah sambil berkata, "Ibu capek ya? Sini saya pijetin."

Mereka berdua duduk di trotoar, kemudian kaki Nurdiah pun dipijat. "Ibu, ibu sudah melahirkan 4 anak saya. Cape ya Bu? Ibu makasih ya selama ini sudah menjaga anak-anak," ujarnya.

Menurut salah satu Pembimbing Ibadah Haji Anshor apa yang dialami oleh kedua jamaah tersebut perlu diambil hikmahnya. Di mana saat ini banyak pasutri muda yang saling bertengkar dan bahkan berujung perceraian.

"Namun, apa yang dilakukan Bapak Burhan dan Ibu Nurdiah jarang terjadi, menunjukkan keikhlasan dan kecintaan serta bisa menerima pasangan apa adanya," ujarnya.

Sebanyak 66% jamaah haji Indonesia adalah lansia. Sekira 98,34 persen jamaah haji Indonesia belum pernah berhaji. Hal ini menjadi salah satu titik krusial dalam pelaksanaan manasik haji.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini