Serasa Hidup di Zaman Rasulullah, Menilik Lembaran Tafsir Kuno di Thaif
Rani Hardjanti, Jurnalis · Jum'at, 15 September 2017 - 18:14 wib
(Kitab kuno di Thaif. (Rani H/Okezone))

MAKKAH - Sejarah membuktikan, perjuangan Nabi Muhammad SAW tidak selalu di Makkah dan Madinah. Salah satu kota bersejarah dalam perjuangan dakwah juga terjadi adalah Thaif, Arab Saudi.

Banyak peristiwa yang terekam di wilayah dengan ketinggian mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini, mulai dari hijrah Nabi hingga pertempuran pasca perang Hunain.

Wajar jika di kota ini juga terdapat beberapa peninggalan sejarah, antara lain Masjid Addas dan Masjid Ku' (Ku'un) yang dalam riwayatnya terkait dengan peristiwa Hijrah Nabi ke Thaif. Peninggalan sejarah lainnya adalah Masjid Jami' Abdullah ibn Abbas. Sesuai namanya, di kompleks masjid ini dikisahkan terdapat makam Abdullah Ibn Abbas.

Bersebelahan dengan Masjid ini, persisnya pada sisi bagian timur, terdapat sebuah perpustakaan yang juga diberi nama Abdullah ibnu Abbas. Sosok yang biasa disebut juga dengan Ibu Abbas ini adalah salah satu sepupu sekaligus sahabat Rasulullah SAW.

Abbas dikenal memiliki pengetahuan luas. Banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui dirinya. Ia jugalah yang menurunkan seluruh khalifah dari Bani Abbasiyah.

Dalam sebuah catatan yang ditempel pada dinding bagian luar perpustakaan, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah menggendong Ibu Abbas kecil, dan mendoakan agar dia diberi keluasan ilmu dan hikmah (Allahumma ‘allimhu al-hikmata).

Catatan itu juga menjelaskan bahwa Perpustakaan Ibn Abbas dibangun pada tahun 1291H oleh penguasa Hijaz Muhammad Rasyid Pasa asy-Syarwani. Dikisahkan bahwa sebelum ada perpustakaan, mewakafkan kitab ke masjid bagi para pencari ilmu menjadi sebuah tradisi pada kurun abad 7 hingga 10 hijriyah. Bahkan, pada tahun 1217 H, jumlah kitab yang diwakafkan ke masjid hampir mencapai 10.000, termasuk sekitar tiga puluh naskah Kibab Shahih Bukhari.

Pada tahun 1346 H, perpustakaan ini dilebur dengan Perpustakaan Haram Al-Makky. Saat itu, banyak sekali koleksi manuskrip yang langka. Baru pada tahun 1384H, tepatnya pada masa Raja Faishal bin Abdul Aziz, Syekh Hasan Arab membuka kembali perpustakaan ini hingga sekarang.

Kamis 14 September 2017, Tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah berkesempatan melakukan ziarah ke Masjid dan Perpustakaan Abdullah Ibn Abbas. Kunjungan rombongan para jurnalis ini dipimpin oleh Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Hadi Rahman serta Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Mastuki. Ikut juga dalam rombongan ini Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Aswadi.

Perpustakaan Ibnu Abbas mempunya luas sekitar 100 meter persegi. Perpustakaan ini menyimpan beragam koleksi, mulai dari prasasti hingga ribuan kitab, klasik dan kontemporer. Di antara koleksi prasastinya berupa tulisan arab yang belum menggunakan titik dan tanda baca (harakat). Ada juga tulisan yang sudah lengkap dengan titik dan tanda baca. Melihat lembaran dan manuskrip peninggalan tersebut seakan masuk ke dalam zaman Rasulullah. Di mana benda-benda kuno menjadi bagian dari saksi bisu perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Koleksi prasasti yang ada di perpustakaan ini disimpan dalam sebuah kotak kaca sehingga hanya bisa dilihat dan tidak bisa disentuh. Umumnya, adalah batu nisan yang menjelaskan keterangan wafat seseorang. Salah satunya adalah Walid Bin Muflih bin Yazid yang wafat pada Ahad, 7 Jumadil Ula 550 H.

Selain prasasti, terdapat koleksi Alquran dan beberapa kitab lama yang juga disimpan dalam kotak kaca. Tidak banyak catatan atau keterangan yang bisa diperoleh tentang ini. Salah satu penjaga perpustakaan Abdul Salam juga tidak bisa memberikan keterangan rinci seputar koleksi ini.

Salah satu koleksinya berupa Alquran. Tampak dari halaman yang terbuka, terdapat catatan bahwa itu merupakan wakaf dari Syekh Muhammad bin Said bin Husain pada tahun 1264 Hijriah (H). Pada Alquran lainnya terdapat keterangan diwakafkan pada 1284 H.

Koleksi lainnya barupa ribuan kitab yang tersusun rapih berdasarkan bidang kajiannya, mulai dari tafsir dan ilmu tafsir, hadits dan ilmu hadits, adab, bahasa arab, nahwu dan sharaf, bahasa inggris, sirah nabawiyah, ekonomi dan politik, serta pengetahuan umum seperti filsafat. Sehingga hanya bisa dilihat dan tidak bisa disentuh. (sym)

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming