Sempat Disangka Negatif, Akhirnya Tuti Menyandang Nama Hajjah Berkat Kemahiran Mengurut
Rani Hardjanti, Jurnalis · Kamis, 14 September 2017 - 19:40 wib
(Air mata Tuti tak bisa terbendung lagi saat menceritakan dirinya (foto: MCH Daker Makkah))

MAKKAH - Begitu menginjakkan kaki ke Tanah Suci, dia merasa bersyukur. Namun lambat laun dia mulai merasa ada yang tidak biasa.

Selain rutin melakukan ibadah wajib dan sunnah, dia terbiasa bekerja membantu orang kurang enak badan. Hingga akhirnya dia berdoa kepada Allah SWT untuk diberi kemudahan. Selesai berdoa, tiba-tiba ada yang meminta pertolongannya untuk dipijat karena keseleo.

Dia adalah Tuti. Profesi sehari-harinya memang berprofesi sebagai tukang urut. Berangkat haji menjadi impiannya sejak puluhan tahun lalu. Setiap tahun, terlebih saat melihat orang pulang haji, keinginannya untuk menjadi dhuyufurrahman tak terbendung.

Apa yang diimpikan sejak dulu itu kini sudah dicapai. Tergabung dalam kloter 27 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 27), Tuti tahun ini berangkat haji. Uang hasil kerja keras menjadi tukang urut yang ditabungnya sedikit demi sedikit dalam 6 tahun akhirnya menjadi bekal dirinya berangkat menunaikan rukun Islam yang kelima.

Ditemui tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah, Rabu (13/9/2017), Tuti berbagi kisah perjuangannya bisa mendaftar haji 6 tahun silam. Menurutnya, keinginannya berhaji sudah terpendam sejak dulu. Keinginan itu semakin kuat karena dukungan anaknya. Dari hasil pernikahan dengan suaminya yang sudah wafat, Tuti dikaruniai 3 anak. Saat suaminya wafat, anak tertuanya kelas 6 SD, sedang si bungsung masih TK. Sejak itu, Tuti membesarkan anaknya sendiri, hingga sekarang berbekal keterampilan sebagai tukang urut dan berjualan.

Keahlian Tuti mengurut diturunkan dari orangtuanya. Saat berusia 9 tahun, Tuti terjatuh hingga keseleo, lalu diurut bapaknya. Dari situ, Bapaknya mengatakan kalau akan menurunkan keahlian mengurutnya pada Tuti.

Sejak ditinggal suaminya, Tuti memanfaatkan keahliannya dengan membuka praktek tukang urut bayi, anak kecil sampai orang dewasa. Selain itu, dia juga berjualan kacang yang dibungkus dan dijual di sekolah anaknya.

“Anak-anak saya ajarkan hidup prihatin dan bersyukur,” ujar Tuti mengenang perjuangannya.

Menurutnya, laku prihatin sengaja diajarkan kepada anaknya sejak kecil. Maklum, hasil dari mengurut tidak menentu, apalagi dirinya tidak pernah memasang tarif, hanya seikhlasnya saja. Perlahan, nama Tuti sebagai tukang urut semakin dikenal. Banyak pelanggang yang membutuhkan keahliannya. Kadang dalam satu hari bisa mencapai 15 orang. Informasi dari mulut ke mulut menyebar sampai ke Bukit Golf Sentul Jawa Barat. Ada salah satu pasien Tuti yang sudah di vonis dokter saraf terjepit atau penyempitan urat syaraf.

Bismillah, Tuti coba memberikan terapi urut secara rutin hingga membaik. Saat ditanya berapa yang harus dibayar, Tuti menjawab seikhlasnya. Oleh keluarga pasien, Tuti akhirnya dikasih uang Rp300 ribu sekali urut.

Rezeki terus bertambah, namun Tuti tidak berubah, semua dijalani dengan rasa syukur dan ikhlas. Niatnya berhaji pun semakin tergambar. Sebagian hasil kerjanya ditabung untuk bersiap menjadi tamu Sang Maha Rahman.

“Alhamdulillah bisa saya tabung untuk berangkat haji,” tuturnya.

Perjalanan hidup Tuti tidak selalu berjalanan mulus, apalagi dengan profesinya sebagai tukang urut. Pernah suatu hari dia diminta mengurut seorang pria di rumahnya. Saat itu, Tuti mau membantu dengan catatan, harus ditemani istri yang mau diurut atau minimal pembantunya. Tuti tidak mau sendiri karena tidak mau ada fitnah.

Saat dia tiba, pintu rumah memang dibuka oleh pembantu pemilik rumah. Namun, setelah dia masuk, sang pembantu pergi entah ke mana. Tinggal lah Tuti berdua dengan pria yang akan diurutnya.

Rasa takut dan khawatir muncul. Karenanya, debelum mulai mengurut, Tuti meminta izin tuan rumah untuk salat Sunah sebelum masuk waktu Asar. Tuti berdoa dan berzikir berharap lindungan Allah dari segala hal yang membahayakan.

Kekhawatiran Tuti terjawab. Lelaki itu memang menyangka Tuti sebagai terapis urat dalam konteks negatif. Seketika Tuti meminta maaf dan menjelaskan dirinya bukan seperti yang dibayangkan. Dia pun meminta maaf dan pamit pulang.

“Suka duka seorang tukang urut seperti ini kadang persepsi negatif timbul,” ujarnya.

Keterampilannya mengurut juga bermanfaat saat Tuti beribadah haji. Dia sering dimintai tolong mengurut jamaah perempuan. Penyebabnya beragam, ada yang hanya karena pegel, ada juga yang keseleo, bahkan urat terjepit. Namun, Tuti memilih membatasi aktivitasnya selama berhaji. Bukan tidak mau menolong, namun dirinya juga harus menjaga kondisi kesehatan dan fokus beribadah.

Kepada tim MCH, Tuti berbagi kisah tentang pengalamannya saat kali pertama melihat Kakbah. Waktu itu dia dan kloternya sedang umrah qudum. Di depan Kakbah, Tuti merasa menemukan ketenangan dalam dirinya. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk berdoa bagi kebaikan orangtua, suami, dan anak, menantu, dan cucunya.

Tuti berharap semua selalu dalam perlindungan Allah SWT, diampuni dosa dan kesalahannya, serta bahagia hidup dunia dan akhirat surga. Tuti juga berharap anak, menantu, dan cucunya dapat menjalankan ibadah haji kelak.

Tuti akan kembali ke Tanah Air pada 19 September mendatang. JKG 25 merupakan kloter terakhir pada pemberangkatan gelombang pertama. Usai berhaji, Tuti mengaku akan mulai mengurangi aktifitasnya sebagai tukang urut agar bisa menjalankan ibadah dengan baik. Dia juga akan lebih selektif menerima pasien, mungkin khusus anak-anak dan wanita. Namun, dia siap membantu siapa saja yang membutuhkan, hanya prioritasnya anak-anak dan wanita saja.

“Saya berharap mendapat haji yang mabrur. Semoga ke depan bertambah keimanan dan ketaqwaan saya. Saya ingin cari keberkahaan saja,” ujar Tuti.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming