Kisah Suster Lili, Mendampingi Jamaah Haji yang Tak Bisa Melihat Kakbah
Rani Hardjanti, Jurnalis · Rabu, 13 September 2017 - 09:45 wib
(Suster Lili ketika bertugas. (Rani Hardjanti/Okezone))

MAKKAH – Menjadi petugas haji adalah sebuah pekerjaan yang sangat menantang. Saat melayani tamu Allah Swt, para petugas kerap menemukan kejadian yang bisa menyentuh hati.

Seperti yang dialami oleh suster atau Perawat Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Lili Andriani saat di dalam kendaraan, Coaster.

(Baca Juga: Ikhlas Kehilangan Rp10 Juta di Tanah Suci, Petani Gula Aren Ini Malah Banjir Rejeki)

Kala itu dia sedang bertugas melayani jamaah yang sakit. Ada yang mengalami stroke dan dimensia (terganggunya mental seseorang yang menyebabkan gangguan berpikir dan hilang ingatan). Berikut ini catatan suster Lili, seperti dikutip Okezone, Rabu (13/9/2017).

(Baca Juga: Mengharukan! Potret Istri Tauladan, Sri Maryati Naik Haji Bersama Suami yang Lumpuh Total)

Catatan di Coster

 

Selesai jaga malam itu, aku dapat jadwal "Rujukan 1". Artinya, aku akan stanby sejak jam 09.00-21.00 malam hari untuk mengantar jamaah sakit ke rumah sakit rujukan.

 

Pagi ini jam 10.00 WAS, WhatsApp (WA) grup minta perawat rujukan untuk turun ke IGD. Kebetulan urutannya sampai ke namaku. Bergegas aku turun setelah ganti pakaian.

 

Ternyata aku berangkat mengantar jamaah yang mau dibuatkan Surat layak terbang untuk tanazul. Bapak itu hanya bisa berbaring setelah serangan stroke 3 minggu lalu.

 

Selesai mengantar rujukan 1, aku ke kamar rehat dulu curi waktu siapa tahu bisa tidur sebentar.

 

Belum berapa lama aku di kamar ada berita di WA, tim rujukan diminta untuk mengantar jamaah yang dirawat di KKHI dan sudah boleh pulang ke kloter.

Ada kira-kira 12 orang yang kami antar ke sektor masing-masing. 10 orang yang kami bawa adalah lansia, 2 orang lainnya adalah istri yang suaminya sedang di rawat di RSAS.

 

Aku berangkat berdua temanku, senang duduk berada di sekitar jamaah itu, tapi perasaanku berubah ketika ku tanya seorang bapak.

 

“Pak sama siapa naik hajinya?”

 

“Sendiri” jawabnya singkat dengan agak susah. Maklum, beliau stroke sehingga agak sulit bicara.

 

“Punya anak berapa Pak?”

 

Dia menggeleng, “Ndak ada.”

 

Deg, aku langsung terdiam, ya Allah kasian banget dia dengan kondisi yang manula usia lebih dari 70 tahun stroke dia tidak punya anak lalu sampai di Indonesia siapa yang merawat. "Oh mungkin istrinya masih agak muda," batinku.

 

“Istri bapak. Masih ada?” lanjutku agak sedikit kepo.

 

Dia kembali menggeleng, “Ndak ada.”

 

“Lalu dengan siapa nanti Bapak di Indonesia?”

 

“Saudara” jawabnya.

 

Aku dan temanku saling lirik dan diam. Ada sedikit sedih di hatiku, mengingat Ayahku juga dulu stroke dan dia butuh banyak bantuan orang lain sampai dengan pulihnya. Susana jadi sepi.

 

Sektor ke-2 yang kami tuju akhirnya sampai. Beberapa jamaah yang bertempat tinggal di sektor itu kami turunkan.

 

Perjalanan berlanjut ke sektor berikutnya, sore merayap ke waktu Magrib, perjalanan kami melewati Masjidil Harom.

 

Dengan heboh kami tunjukkan Masjidil Harom ke jamaah kami, "Bu.. Pak.. Tuh sebelah kanan Masjidil Harom di sana. Yang lampunya warna hijau, di dalamnya Kakbah."

 

Sebagaian dari mereka menoleh ke kanan, tapi ada bapak yang dengan wajah bingung menatapku.

 

"Itu pak," sambil ku palingkan wajahnya ke kanan. Tapi percuma dia dimensia tidak mengerti apa yang aku bicarakan.

 

Ada lagi Ibu yang sama-sama bingung. Dia juga dimensia dan tidak mengerti.

 

Agak parau suaraku, seketika berlinang air mata, wajah-wajah tua ini berusaha mengumpulkan uang, menunggu antrean yang lama untuk datang berharap bisa melihat Kakbah. Tapi sampai di sini, bahkan dia tidak mengerti.

 

“Saya juga belum lihat Kakbah," satu suara aku dengar dari belakang.

 

Seorang Ibu dengan wajah yang lesu berbicara, “Sejak datang ke Madinah saya sakit, terus dipindahin ke rumah sakit sini. Sampai sekarang belum ke masjid itu, belum lihat Kakbah.”

 

Ya Allah, akhirnya air mataku tidak terbendung, begitu besar harapan mereka sama seperti orang-orang yang berusaha mengumpulkan uang, membayar mahal-mahal dan menunggu waktu untuk berhaji. Begitu tiba waktunya mereka berangkat ke Tanah Suci, bahkan tidak bisa melaksanakan rukunnya sendiri, sebagaian dari manula yang kami bawa ini di mana hajinya dibadalkan (diwakilkan)

 

Tapi haji bukan hanya cukup secara materi, kemampuan fisik dan mental juga harus diperhatikan.

 

Bayangkan Betapa mahal harga Istitaah yang sebenarnya. Mereka yang manula terbang 10 jam perjalanan, sampai di Tanah Suci sakit karena kelelahan, dirawat, tidak mampu untuk melaksanakan rukun dan wajibnya.

 

Lalu mereka pulang ke Tanah Air dengan kondisi sakit atau tanazul awal dan belum melihat Kakbah.

 

Semakin sedih rasanya... Terima kasih ya Allah di usiaku yang masih kuat ini Engkau berikan aku kesempatan untuk melaksanakan haji. Bahkan sambil merawat jamaah-jamaah yang sakit.

 

Ya Allah, semoga Engkau terima hajiku dan semua muslim yang berhaji menjadi haji yang mambrur

 

Ya Allah, semoga engkau berikan kesempatan bagi suami, anak-anak dan keluargaku, saudaraku, teman-temanku dan semua muslim berhaji dalam keadaan sehat dan istitaah sehingga mereka dapat melaksnakan hajinya dengan sempurna. Amiin.

 

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming