5 Kisah Perjuangan Jamaah Haji yang Menyentuh Hati
Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Selasa, 25 Juli 2017 - 11:33 wib
()

JAKARTA - Kisah-kisah berhaji umat Muslim seluruh dunia menarik untuk disimak dan menjadi inti sari kehidupan beragama. Muslimcouncil.org.uk merangkum lima kisah para haji yang menyentuh kalbu.

1. Delapan bersaudara menjaga sang ibu

Ibu asal Nigeria, Aysha (73) pastilah menjadi perempuan paling beruntung di dunia karena kedelapan anak lelakinya berbakti. Kisah delapan lelaki yang menjaga ibunya selama menunaikan ibadah di Tanah Suci menjadi perbincangan terhangat pada musim haji 2014.

Putra bungsu Aysha, Mustafa Al-Faisal menerangkan bahwa ia bersama ketujuh abangnya merujuk ajaran Alquran dan Hadist agar selalu mencintai ibu yang telah melahirkan generasi-generasi baru di dunia.

“Ibu ingin berangkat haji bersama-sama kami, maka kami berusaha menabung bersama selama 20 tahun untuk memenuhi keinginannya,” terang si sulung Moussa dikutip dari Arabnews.

Lantaran kondisi fisik ibunya yang melemah, para pria ini bersepakat membelikan kursi roda yang berfungsi sekaligus sebagai kereta troli barang. Mustafa pun mengusulkan agar ada giliran mendorong sang ibu dan memenuhi segala kebutuhan hariannya. Piket tersebut berganti setiap dua hari sekali selama 40 hari di Tanah Suci. Kedelapan anak saleh ini pun sangat menikmati selama melayani sang ibu.

2. Pria 105 tahun menabung 15 tahun untuk berhaji

Setelah menabung selama 15 tahun, pria asal Pakistan Noor Mohammed (105) akhirnya memenuhi impiannya berhaji pada 2015. Koran Al-Hayat merekam perjuangan Mohammed.

“Biaya berhaji selalu naik tiap tahun. Saya hampir gagal karena kesulitan mengumpulkan uang,” terangnya.

Ia mengakui baru sempat membuka tabungan haji ketika usianya menapak 90 tahun karena harus memenuhi kebutuhan utama keluarganya. Ketika mendarat di tanah Saudi Arabia, Mohammed mengaku ternyata menjalani ritual rukun Islam kelima tidaklah sesulit apa yang dikisahkan para almarhum sahabatnya.

“Banyak fasilitas-fasilitas yang membantu ibadah haji tua seperti saya karena selama ini saya hanya melihat Tanah Suci dari foto-foto lama yang belum memerlihatkan fasilitas tadi,” jelas Mohammed.

3. Pergi ke Tanah Suci berkat ikan asap

Perempuan asal Uganda, Kasifah Nankumba (58) menjadi sosok pekerja keras demi meraih citanya untuk berhaji. Kepada Anadoly Agency, Kasifah bercerita dirinya menabung selama 10 tahun untuk pergi ke Makkah dari hasil menjual ikan asap.

“Saya sudah tak sabar melihat kota Makkah, Padang Arafah, dan minum air Zamzam,” kata Kasifah.

Pedagang pasar Kalerwe ini terlihat sangat antusias sekaligus khawatir ketika menjalani panggilan berhaji pada 2015. Meskipun para syekh telah membimbingnya bersama jamaah lain, Kasifah merasa grogi.

Keinginannya untuk berhaji muncul sejak 2006. Namun, ia sadar uangnya belum cukup. Takdir membawanya bertemu Haji Musa yang memperkenalkan Kasifah kepada manajer agensi haji dan umroh. Mereka menyarankan Kasifah menabung bertahap dalam bentuk dolar AS.

Tepat pada 15 Juni 2015, pihak travel menghubungi Kasifah dan mengabarkan bahwa uangnya sudah cukup mengantarnya ke Tanah Suci. “Saya ingat saat itu tengah berada di pasar, duduk berjongkok di tanah dan dia (petugas travel) menyebut nama saya empat kali karena saya merasa syok mendengarnya,” jelas Kasifah.

Setelah menyelesaikan ibadahnya, Kasifah berniat mendalami agama Islam secara utuh di rumah. “Jadi saya tidak sekadar duduk di bawah sambil berjualan ikan,” katanya.

4. Berjalan kaki 5.700 kilometer menuju Tanah Suci

Kegigihan serta niat Senad Hadzic (47) membuahkan rasa keimanan yang kuat. Muslim asal Bosnia ini memutuskan berjalan kaki sejak Desember 2011 menuju Makkah. Ia tiba di Tanah Suci pada tahun 2012 setelah melintasi tujuh negara, termasuk terjebak di tengah perang Suriah. “Setiba di Makkah, saya tidak capek karena merasa ini hari terbaik dalam hidup saya,” kata Hadzic.

Dari perhitungannya, ia telah menempuh 5.700 kilometer dalam 314 hari. Negara yang ia lintasi di antaranya Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, dan Yordania. Selama berjalan kaki, ia menggendong ransel seberat 20 kilogram.

Setiap ia berhasil melintasi pos lintas batas, Hadzic memposting fotonya di laman Facebook. “Saya berhasil masuk Suriah pada bulan April yang harus saya tempuh 11 hari dalam perjalanan 500 kilometer,” katanya.

Ia melewati kota tua bersejarah Aleppo dan Damaskus setelah melewati sekira 20 pos pengecekan. Banyak pengalaman menegangkan ketika di Suriah. Ketika berada di pos cek pro Bashar al-Assad, ia harus mengosongkan isi ranselnya. Saat petugas melihat Alquran di dalamnya, petugas membiarkan ia pergi.

Dalam laman Facebook-nya, Hadzic mengaku impiannya melewati Suriah dan Iran telah tercapai. Berikutnya, ia bercerita tentang tantangan dari alam, yakni cuaca. Hadzic kerap merasakan temperatur ekstrem dari minus 35 Celsius di Bulgaria hingga panasnya Yordania yang mencapai 44 Celsius.

Perjalanannya pun tak selalu lancar. Seperti ketika di Istanbul, Turki. Ia harus menanti beberapa minggu untuk penerbitan visa izin melintas via Jembatan Bosphorus. Kemudian selama dua bulan ia berada di perbatasan antara Yordania dan Saudi Arabia

5. Orang Pakistan berhaji menempuh 6.387 kilometer

Kharlzada Kasrat Rai (37) memulai perjalanannya menuju Makkah dari Karachi pada 7 Juni 2013. Total, ia menempuh 6.387 kilometer via Iran, Irak, dan Yordania selama tiga bulan. Berkat kegigihannya, ia disambut bak pahlawan oleh Wali Kota Makkah, imam Masjidil Haram serta komunitas Muslim Pakistan di Makkah. “Saya menginginkan persatuan umat Islam, kedamaian di dunia serta persatuan,” kata Kasrat Rai kepada Al Arabiya News.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming