Berapa Uang Saku Ideal untuk Jamaah Haji Selama di Tanah Suci?
Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin, 24 Juli 2017 - 14:40 wib
()

IBADAH haji bukan sekadar soal ibadah. Pergi ke tanah suci dan menjalankan rangkaian ibadah haji berarti Anda harus hidup di negara orang kurang lebih sekira 40 hari. Kebutuhan finansial pun harus dipikirkan.

Walau pada kenyataannya, tanggungan seperti hotel, transportasi, dan sebagian uang makan sudah ditanggung pemerintah, tapi ada kebutuhan lain yang tidak dicover. Sebut saja beli jajan oleh-oleh, parfum, atau membayar ongkos bus untuk umrah sunnah. Pasti dilakukan kan? Hehe

Nah, untuk itu, Anda harus memperhitungkan dengan baik seberapa besar uang yang harus Anda bawa. Menurut Kepala Bidang Humas Kementerian Agama Rosidin Karidi, jamaah haji tidak dibatasi mau bawa uang berapa, tapi dia mengimbau untuk membawa uang seperlunya saja. Jangan terlalu banyak juga.

"Masalah ini sangat personal. Tidak bisa dipukul rata. Ada jamaah yang mau jajan banyak, ya, boleh. Mereka yang jajannya tidak mau banyak pun ada. Kami hanya mengimbau untuk membawa uang saku secukupnya dan seperlunya," kata Rosidin kepada Okezone.

Rosidin memaparkan, selama perjalanan ibadah haji, pertama-tama jamaah akan diberikan uang saku sebesar 1.500 riyal untuk living cost-nya. "Uang ini diberikan ke jamaah pada saat mereka sampai di asrama," singkatnya. Selebihnya, itu tergantung dari kebutuhan jamaah saja.

Selain uang living cost, sebenarnya jamaah pun sudah tidak perlu memikirkan hal berikut. Sebut saja uang sewa hotel, uang transportasi selama rangkaian haji dan umroh yang memang menjadi kewajiban dan sesuai dengan tata cara, dan juga makan selama 25 kali atau 12 setengah hari.

"Nah, di luar itu jadi tanggung jawab jamaah. Seperti uang oleh-oleh, uang jajan di sana, uang transportasi bila ingin melaksanakan ziarah di luar rangkaian haji formal, pun uang masuk ke beberapa tempat ziarah yang mengharuskan adanya uang "amal"," terang Rosidin.

Rosidin pun menjabarkan, terkait dengan baiknya membawa rupiah, riyal, atau dollar, menurut dia tidak ada masalah dengan hal itu. Sebab, di Arab Saudi pun tersedia ATM atau tempat penukaran uang. Tapi, tidak pada semua titik juga. "Jadi, Anda pun harus berusaha untuk tanya dimana lokasi yang menyediakan layanan ATM atau tempat penukaran uang," ungkapnya.

Namun, yang jelas, sambung Rosidin, pedagang di Arab Saudi menerima mata uang selain riyal seperti misalnya rupiah atau dolar. Tapi, untuk amannya, memang menggunakan mata uang riyal saja. Begitu juga dengan lebih baik membawa uang cash atau dengan moneyless. Rosidin beranggapan tidak ada batasan terkait masalah itu. Selama tokonya menyediakan mesin ATM, ya, tidak apa-apa. "Sekali lagi, semua itu tergantung dari kondisi di sananya saja. Tapi, kalau saya sih lebih suka bawa uang cash," tambahnya.

Terkait dengan rincian anggaran yang mungkin akan dihabiskan jamaah haji, Rosidin cona merincikannya kepada Okezone. 

1. Makan selama 15 hari (di luar dari tanggungan pemerintah). Diperkirakan sekali makan (sudah membuat perut kenyang) adalah 10 riyal. Jadi, bila diperkirakan sehari makan dua kali, berarti sampai ibadah selesai Anda membutuhkan 300 riyal untuk makan di luar tanggungan pemerintah.

2. Pembayaran dam (denda) yang memang wajib karena mayoritas jamaah haji Indonesia memilih melakukan haji tamattu, sebesar 400 riyal (harga satu kambing). Harga ini bisa lebih mahal bila waktu pembelian sudah dekat dengan hari H dari Idul Adha.

3. Biaya oleh-oleh diperkirakan sudah cukup 1.500 riyal

4. Biaya foto dengan onta 10 riyal

5. Biaya transportasi ziarah diperkirakan 750 riyal untuk beberapa lokasi ziarah.

6. Biaya tak terduga, Anda bisa sisihkan 500 riyal.

Jadi, dapat dirangkum, uang yang Anda butuhkan di luar dari tanggungan pemerintah sekira 3.460 riyal atau Rp12,3 juta. Sekali lagi, angka ini tentunya bukan angka pasti. Ada baiknya bila memang rezeki Anda masih melampaui nominal itu, dibawa seperlunya. Nominalnya bisa jauh melampaui atau dekat dengan perkiraan di atas.

Jamaah haji tahun lalu, Khatibul Umam (24), coba menceritakan kisahnya. Menurut dia, untuk urusan financial, semuanya benar-benar tergantung pribadi masing-masing. Ada yang doyan jajan, ada yang biasa saja. "Kalau saya sendiri cenderung biasa saja," katanya kepada Okezone. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu melanjutkan, yang cukup terasa pengeluarannya memang pada biaya oleh-oleh.

Untuk urusan itu, Umam menyisihkan sekira 1.000 riyal. Itu pun sudah terbilang cukup. Terkait dengan pedagang Arab Saudi suka dengan jamaah Indonesia, Umam pun membenarkan hal tersebut. Dikatakan Umam, itu karena jamaah haji Indonesia sangat ramah. Makanya pedagang suka dengan masyarakat Indonesia. "Ya, kadang karena terlalu ramah, harga barang pun bisa lebih murah," tambahnya sedikit tertawa.

Untuk urusan financial, ternyata Umam lebih suka pegang uang cash. Sebab, dirinya lebih suka jajan di pedagang kaki lima dibandingkan di toko. Nah, karena lebih suka jajan di pedagang kaki lima, makanya penting bagi Umam pegang uangnya cash.

Mata uangnya pun diungkapkan Umam lebih aman pegang riyal langsung saja. "Walau penukaran uang lokasinya banyak ditemui, tapi, biar meminimalisir kejahatan dan tindakan yang tidak diinginkan, sebaiknya langsung pegang riyal," sambung dia.

"Intinya, sebisa mungkin kita meminimalisir ketidakefisiensian waktu di sana. Sebab, bagaimana pun, niat awal kita adalah untuk ibadah. Jadi, prioritaskan itu dulu baru pusing mikirin oleh-oleh," tambah Umam.

Penuturan berbeda dilontarkan Khalil Gibran, jamaah haji tahun 2014. Dia menuturkan, pengeluaran tersebur justru untuk makan dan transportasi. Hal itu karena cita rasa makanan yang disediakan pemerintah, menurut dia, kurang membuatnya berselera.

“Selain dapat uang living cost 1.500 riyal, saya menambah uang saku sekira 500 riyal atau Rp 1,775 juta per orang,” jelas Gibran.

Gibran yang berangkat bersama kedua orang tua dan seorang adiknya ini mengalokasikan sekira 90% gabungan uang living cost tadi dengan uang pribadinya untuk transportasi dan membeli makanan. Keluarga Gibran kebanyakan membeli makanan utama di Makkah hampir setiap hari.

“Kami kurang sreg dengan rasa makanan katering jatah haji reguler di Makkah karena kurang enak,” jelas Gibran.

Sementara, di Madinah, ia dan keluarga selalu makan jatah katering reguler karena cita rasanya masih sesuai lidah orang Indonesia. Sisa uang saku tadi sekira 10% dialokasikan untuk membeli oleh-oleh haji untuk kerabat dan tetangga.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming