Membedakan Zakat Profesi dan Zakat Maal
, Jurnalis · Jum'at, 8 Juli 2016 - 09:05 wib
(Zakat Maal (Ilustrasi: www.baznasjatim.or.id))

Pertanyaan:

Pak Ustadz, yang ingnin saya tanyakan bagaimana membedakan antara zakat profesi dengan zakat maal? Kedua, saya bingung menghitung zakat maal, selama ini saya hanya menghitung zakat profesi 2,5% dari gaji yang diterima. Lalu bagaimana mengetahui nisab dari zakat yang akan dikeluarkan. Mohon jawaban pak Ustadz.

Ahmadi - Tangerang

Jawaban:

Zakat profesi merupakan bagian dari zakat maal. Dan ayat tentang kewajiban mengeluarkan zakat maal sudah jelas.

a. Dari sisi penghasilan, profesi merupakan zakat pendapatan (kasab) dan ayat tentang zakat pendapatan (kasab) sudah jelas di dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 267.

b. Dari sisi keadilan, petani yang menghasilkan 1 ton padi dikenakan zakatnya sedangkan para profesional yang gaji bulanannya jutaan kalau tidak dikenakan zakatnya tidak mencerminkan keadilan.

Adapun cara menghitungnya adalah :

a. Menganalogikan nishab zakat penghasilan kepada zakat hasil pertanian. Karena model memperoleh harta penghasilan mirip dengan panen dari hasil pertanian. Nishabnya senilai 653 kg beras.

b. Sedangkan kadarnya dianalogikan kepada zakat emas atau zakat uang sebesar 2,5%, karena model bentuk harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang.

c. Waktu mengeluarkannya setiap kali menerima (panen).

Model penganalogian seperti di atas tidak asing di kalangan ulama salaf, seperti saat para ulama menganalogikan hamba sahaya. Di satu sisi, hamba sahaya dianalogikan dengan hewan untuk menetapkan boleh/tidaknya diperjualbelikan. Namun disisi lain, hamba sahaya dianalogikan dengan manusia mukallaf ketika mereka harus melaksanakan beberapa taklif, seperti shalat dan puasa .

Pendapat ini lebih mempertimbangkan maslahat bagi muzaki dan mustahik. Mashlahah bagi muzaki adalah apabila dianalogikan kepada zakat hasil tani, baik nishab dan kadarnya, maka hal ini akan memberatkan muzaki karena tarifnya adalah 5 %. Sementara itu, jika dianalogikan dengan zakat emas, hal ini akan kurang berpihak kepada mustahik karena tingginya nishab akan semakin mengurangi jumlah orang yang sampai nishab. Oleh sebab itu, pendapat ini adalah pendapat pertengahan yang mempehatikan mashlahah kedua belah pihak (muzaki dan mustahik).

 Tim Da'i Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Berita Rekomendasi

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming