Kakbah versus Hollywood, Manhattan & Paris
Muhammad Saifullah , Jurnalis · Senin, 1 November 2010 - 10:35 wib
((Foto: Wordpress))

KITA mengetahui, sebelum melakukan invasi ke Makkah untuk meruntuhkan kakbah, Abrahah membangun sebuah gereja di Yaman guna mereduksi keagungan kakbah yang menjadi trend setter keberagamaan populer bangsa Arab.

Abrahah sendiri adalah tokoh politik sekaligus komandan militer tentara Kristen Ethiopia yang hadir di Yaman atas restu Bizantium. Kakbah sebagai poros penyembahan bangsa Arab dalam ritual kuno, haji, diinterupsi dengan pendirian Al Qulles, gereja suci nan megah, yang didirikan Abrahah untuk membendung kepopuleran kakbah.

Bagi bangsa Arab, Al Qulles adalah lambang kesombongan dan interupsi kolonialis terhadap nasionalisme sekaligus religiositas Arab. Yaman, bumi di mana Al Qulles dibangun merupakan area konflik agama-agama samawi plus Bizantium (Romawi Timur) versus Persia.

Sejak lama, Yahudi dan Kristen dominan di daerah ini. Pada suatu masa, raja Arab Himyar yang menguasai Yaman terprovokasi oleh orang-orang Yahudi di negeri itu untuk memaksa komunitas Kristen memeluk Yahudi. Raja Yaman itu menawarkan opsi ala raja Ferdinand-Isabella, yaitu masuk Yahudi atau dibakar dalam parit api. Dalam literasi Alquran hal ini dijelaskan dalam kisah Ashabul Ukhdur (para pembuat parit berapi) dalam surat Al Buruuj ayat 4-8.

Perlu diberi catatan, kalaulah benar Surat Buruuj 4-8 merujuk kepada komunitas Kristen Yaman, maka kekristenan Yaman sudah pasti merupakan Kekristenan yang tidak sama dengan kekristenan Bizantium. Pasalnya, teks lengkap Al Buruuj ayat 7-8 menyebut kaum Kristen Yaman sebagai mukminin. Sudah pasti komunitas Kristen ini  bukan komunitas trinitas sebagaimana yang dianut Romawi.

Boleh jadi, kebencian Yahudi terhadap Kristen bukan hanya dimotivasi pengusiran Bizantium terhadap kaum Yahudi di Yerussalem sejak masa Titus. Tapi juga ketidaksukaan teologis Yahudi terhadap kristen. Boleh jadi pula, kekristenan Etiopia yang mendominasi Yaman bertabrakan dengan kekristenan pribumi. Pasalnya, pada masa kemudian, ketika Abrahah tewas pascaserangan ababil di Makkah, kaum Ethiopia ini juga diusir oleh bangsa Yaman atas dukungan Persia setelah lobi pemimpin Kristen Yaman saat itu, Saif Bin Zi Yazan terhadap Bizantium agar mengintervensi Ethiopia di Yaman mengalami kegagalan.

Meskipun, Ethiopia hanyalah satelit politik Bizantium, namun kaisar Yustinianus tak dapat berbuat lebih jauh untuk menarik mundur pasukan Ethiopia dari Yaman. Langkah diam Bizantium inilah yang memicu Saif bin Zi Yazan untuk meminta bantuan militer Persia. Sebuah pilihan yang tepat, karena opsi politik militer saat itu hanya dua saja. Meminta bantuan militer Bizantium atau Persia dan tak ada opsi ketiga.

Alur peristiwa politik di atas menunjukkan bahwa background Al Qulles bukan saja cerita tentang proyek perebutan ruang religiositas, tapi juga perebutan ruang politik yang diperankan dua adidaya, Romawi Timur (Bizantium) dengan Persia. Lanskap politik dwipolar ini masih berperan strategis sampai berkembangnya risalah Muhammad SAW.

Abrahah merupakan salah satu tokoh penting dalam insiden perebutan kekuasaan politik-teologis di Yaman. Abrahah pulalah yang kemudian membangun Al Qulles untuk menandingi kakbah di Mekkah.

Namun, usaha Abrahah sia-sia. Keagungan kakbah, bangunan antik yang sebenarnya tak lebih cemerlang dari Al Qulles tak tertandingi sama sekali. Kakbah tetap menjadi supremasi superior bangsa Arab. Lebih menyedihkan lagi, Abrahah tewas saat menyerang kakbah, setelah armada perangnya dihancurkan burung ababil.

Al Qulles mempertautkan agama-agama besar dunia dalam jalinan sejarah yang rumit. Seandainya Zu Nuwas, raja Arab Himyar yang pro Yahudi tidak membantai puluhan ribu orang Nasrani Yaman, maka Al Qulles takkan pernah ada. Bahkan historiografi Islampun takkan pernah mencatat Abrahah. Karena diktatorianisme beragama Zu Nuwaslah, muncullah intervensi kaum nasrani Abbesinia (Ethiopia) yang didukung Bizantium.

Menariknya, kepedulian Bizantium meskipun hanya mengirimkan kapal pengangkut bagi serdadu Etiopia justru dilakukan untuk membantu komunitas Kristen yang bukan penganut trinitas. Sebagian sejarawan mencurigai, motif Bizantium hanyalah kolonialisasi semata dengan memanfaatkan kekisruhan politik di Yaman.

Al Qulles tidak saja menunjukkan permusuhan rumit segitiga antara Yahudi, Kristen dan tradisi Abrahamaic Arabia dalam bingkai politik internasional. Tentu saja, Islam dalam pengertian agama yang diwahyukan kepada Muhammad tidak terlibat dalam konflik prestisius ini. Insiden Al Qulles hanya menunjukkan sikap antitesis terhadap realitas kesejarahan Ibrahim masa lalu. Apakah Abrahah yang Kristen dan sudah pasti menghormati Ibrahim, tak menyadari bahwa kakbah dalam ruang sejarah tradisi Semit dibangun oleh Ibrahim.

Suasana haji kita pada masa kini, sebenarnya mirip dengan kondisi ibadah haji  ketika kakbah dan tataran lebih luas adalah Makkah diinterupsi Al Qulles. Bahkan, kalau acuannya adalah kondisi politik internasional maka lebih luas lagi cakupannya. Dunia kontemporer bukan lagi didominasi perebutan kekuatan dwipolar seperti Sovyet versus Amerika, namun telah membentuk formasi multipolar.

Ada banyak kiblat politik hari ini dan kaum muslim dapat memilih opsi kesekian untuk menentukan arah kiblatnya. Makkah masa kini tak lagi superior kecuali hanya pada dimensi spiritualnya semata. Al Qulles-Al Qulles baru yang megah dan lebih memikat banyak berdiri dengan gagah menginterupsi superioritas Makkah. Manhattan, Paris, Hollywood dan banyak lagi ikon megapolitan dunia yang mendudukkan Makkah di ambang inferioritas. Makkah tak lagi menjadi sentral segala-galanya bagi kaum muslim.

Banyak hidup kaum muslim sebenarnya diorientasikan oleh Al Qulles modern. Hollywood, Manhattan, dan Paris adalah Al Qulles-Al Qulles kontemporer yang secara progresif mereduksi Makkah dan kakbah pada tataran yang tidak prestisius. Al Qulles-Al Qulles itu membagi afiliasi kiblat kaum muslim untuk tidak terfokus kepada kakbah semata. Sebagaimana Al Qulles Yaman yang dibangun Abrahah yang besar dalam tradisi agama samawi. Al Qulles-Al Qulles kontemporer juga dibangun oleh barat modern yang mengenal Abraham sebagai bapak suci para nabi-nabi Semit, walaupun tak sepenuhnya barat modern itu kristen yang sepenuhnya fundamental.

Kita boleh saja menuduh barat modern adalah gabungan membingungkan dari sekulerisme, ateisme, atau agnotisme dan tak lagi kristen religius. Hal seperti itupun sebenarnya sama dengan keberagamaan sebagian kita, kaum muslim kontemporer yang terbelit dualisme dari segi afiliasi hidup.

Mungkin banyak di antara kita menjadikan Paris sebagai kiblat Mode atau Hollywood sebagai kiblat berperilaku, mungkin juga gaya berpikir ala Manhattan yang kapitalis dalam relasi kemanusiaan. Kita mengaku bermakmum kepada Ibrahim tapi sekaligus juga bermakmum kepada orientasi duniawi. Keberagamaan sebagian kita adalah keberagamaan separatis.

Perjalanan haji kita hari ini mungkin semu dan membangun simulakrum sintetis yang membingungkan. Lihatlah, sebagian para haji yang tak kreatif untuk membendung perpecahan afiliasi beragam kiblat dalam alur hidupnya untuk selalu selaras dengan kakbah. Kita hanya menjadikan kakbah sebagai pusat ketertujuan ibadah dan bukan aplikasi hidup.

Teritorial kakbah tak mampu menjadi magnet signifikan selain hanya sebagai kiblat salat. Hedonisme, materialisme, dan egoisme adalah karakter kejiwaan primordial yang sebenarnya telah menjadikan glamoritas Paris, kapitalisme Manhattan, dan materialisme Hollywood sebagai kiblat pengganti kakbah.

Kita hanya bersatu dengan kakbah ketika salat dan haji, namun tidak setelah itu. Bahkan, pada saat melakukan hajipun, hedonisme yang glamor itu ada. Kita lupa bahwa haji mabrur memerlukan sinergitas antar berbagai hal dalam hidup. Karena itu, haji yang mabrur sebenarnya ketika terdapat kesatuan segenap afiliasi moralitas, teologi dan perilaku hidup kepada kakbah semata.

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

Penulis adalah Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ. Pemerhati Sosial Keagamaan. Berdomisili di Sumenep

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming